Minggu, 09 Januari 2011

Mengikuti Jejak Kristus (2)




2.1. HAL PERGAULAN BATIN

1. Kerajaan Allah berada di antaramu (Luk. 17.21), demikianlah sabda Tuhan. Hendaklah dengan segenap hati kita bertobat kepada Allah; dan kita tinggalkanlah dunia yang penuh kesusahan ini, maka kita tentu akan menemukan ketenteraman bagi jiwa kita.Marilah kita belajar melepaskan diri kita dari benda-benda yang kelihatan ini dan mencurahkan segenap perhatian kita pada kebatinan, dan kita akan melihat kerajaan Allah datang pada kita.Sebab kerajaan Allah ialah ketenteraman dan kegembiraan dalam Roh Kudus (Rom 14.17), yang tidak diberikan kepada mereka yang berdosa.Kristus akan datang pada kita dan memberikan hiburanNya, asal kita mau mempersiapkan tempat yang pantas bagiNya di dalam hati kita. Segala kemuliaan dan keindahan Kristus itu adanya di dalam batin kita dan di situlah Dia akan berkenan.Kristus seringkali datang berkunjung di dalam hati orang, berbicara dengan dia, memberi hiburan yang manis, ketenteraman yang cukup dan persahabatan yang mengherankan.
2. Maka itu, jiwaku yang setia, siapkanlah hatimu untuk menerima kedatangan Mempelaimu itu, agar ia berkenan datang dan tinggal di situ.Sebab Ia telah bersabda: “Jika orang cinta padaKu, ia akan menjalankan perkataanKu dan Aku akan datang padanya dan tetap tinggal di dalamnya”. (Yoh 4.23).Maka siapkanlah tempat bagi Kristus dan janganlah perbolehkan orang lain masuk ke dalam hatimu. Kalau kita selalu memiliki Kristus, maka kayalah kita dan tak akan menderita kekurangan apapun juga. Ia sendirilah yang akan mencukupi segala-galanya dan yang akan mengatur semuanya, hingga kita tidak perlu mengharapkan bantuan orang lain.Sebab orang itu cepat lupa dan lalai, cepat berubah dan tak dapat ditentukan,tetapi Kristus tinggal tetap selama-lamanya, dan Ia selalu berada di samping kita dengan bantuanNya sampai saat terakhir.
3. Janganlah kita menaruh harapan besar pada manusia yang sifatnya lemah dan tidak kekal itu, meskipun ia berfaedah bagi kita dan bersikap manis. Dan janganlah kita terlalu merasa sedih, bila kita kadang-kadang mendapat rintangan atau bantahan daripadanya.Hari ini dia berdiri di pihak kita, lain kali ia melawan kita, dan demikinlah sebaliknya. Mereka berputar haluan bagaikan angin.Taruhlah segenap harapanmu atas Allah dan semoga Dialah yang engkau takuti dan engkau cintai. Ia sendirilah yang akan memberi jawaban bagi kita dan akan mengatur segalanya menurut cara yang terbaik bagi kita.Di sini kamu tidak mempunyai tempat tinggal yang kekal (Ibr. 13.14),dan di manapun kita berada, kita tetap sebagai orang asing dan orang yang sedang bepergian; dan tak mungkinlah kita akan memperoleh ketenteraman, jika kita tidak menjadi satu dengan Kristus.
4. Untuk apa di dunia ini kita melihat kiri kanan, karena di dunia ini tidak ada tempat istirahat bagi kita? Tempat tinggal kita ada di surga (Bandingkan II Kor. 5.2) dan semua barang dunia hendaknya kita pandang sepintas lalu saja.Dunia seisinya akan berlalu, demikian pula kita bersama-sama.Maka itu waspadalah kita, supaya kita tidak lekat pada benda-benda dunia itu dan terjerat olehnya, serta terjerumus di dalamnya.Kita tujukan pikiran kita selalu kepada Tuhan yang maha tinggi dan kita panjatkan doa kita terus-menerus kepada Kristus.Jika kita tak mampu merenungkan hal-hal yang mulia dan yang bertalian dengan soal-soal surgawi, renungkanlah sengsara Kristus beserta luka-lukaNya. Sebab jika kita mencari perlindungan pada luka-luka Yesus dan bekas-bekasnya yang mulia itu, niscaya kita akan memperoleh dan merasakan kekuatan yang sangat besar dalam penderitaan kita. Dan kita tak akan mengacuhkan ejekan dan akan mudah menahan umpatan-umpatan orang.
5. Sebab Kristus sendiri, waktu masih hidup di dunia ini juga mengalami hinaan dan ejekan, dan pada waktu Ia menderita sengsara paling hebat, Ia pun ditinggalkan seorang diri oleh teman-teman dan para sahabatNya serta menanggung cercaan dan cemoohan.Kristus mempunyai banyak musuh dan penentang. Apakah kita ingin, bahwa semua orang bersahabat dengan kita dan membantu kita ?Jikalau kita tidak mengalami kesukaran, bagaimanakah kesabaran kita akan diberi pahala ?Jika kita ingin bertakhta bersama-sama Kristus, kita mesti sanggup juga menderita bersama-sama Kristus dan untuk Kristus.
6. Apabila kita telah sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dan telah sedikit merasakan cinta kasih Yesus yang menyala-nyala itu, niscaya kita tidak akan memperdulikan kesulitan ataupun kepahitan, yang kita alami, melainkan akan gembiralah kita atas penderitaan yang harus kita alami. Sebab cintakasih terhadap Yesus akan menginsyafkan kita, untuk merendahkan diri kita sendiri.Barangsiapa cinta akan Yesus dan akan kebenaran dan benar-benar berjiwa penuh semangat rohani, maka ia tentu akan bebas daripada kecenderungan yang tak teratur, dan diapun akan bertolak kepada Allah dengan tak ada yang menghalang-halanginya, rohnya akan mengalahkan badannya, hingga ia merasa tak terikat olehnya serta merasa tenteram dalam hati sambil menikmati Tuhan.
7. Barangsiapa dapat menilai barang-barang dunia semua seperti apa adanya dan tidak seperti yang dikatakan atau ditafsirkan orang lain, orang itu sungguh bijaksana dan dia mendapat lebih banyak ajaran dari Tuhan daripada dari manusia biasa.Barangsiapa tahu menjalankan hidup kebatinan dan tidak begitu mementingkan hal-hal di luarnya, ia tak akan mencari tempat yang istimewa dan tak akan menunggu saat tertentu untuk menjalankan latihan-latihan rohaninya. Orang yang mempunyai hidup kebatinan akan lekas dapat memusatkan segala pikirannya, karena ia tidak pernah dikuasai seluruhnya oleh hal-hal di sekitarnya.Ia tidak akan terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan luar, atu oleh kesibukan-kesibukan sementara,sebab ia berbuat sesuai dengan keadaan suasana.Orang yang teratur baik keadaan batinnya, tentu tidak akan menghiraukan perbuatan-perbuatan orang lain yang luar biasa, ataupun yang tidak menyenangkan. Sebab barangsiapa masih menaruh perhatian terhadap barang-barang di sekitarnya, maka ia masih akan terganggu olehnya.
8. Seandainya keadaan kita itu sungguh teratur dan murni, niscaya segalanya akan membawa kebaikan dan kemajuan bagi kita.Oleh sebab itu kita masih banyak mengalami kesusahan dan kekacauan, karena kita belum mematikan diri kita sendiri dan masih lekat pada barang-barang duniawi.Tak ada yang begitu menodai dan menjerat hati kita, selain cinta yang tidak murni terhadap sesuatu makhluk.Apabila kita menolak hiburan dunia, maka kita akan dapat merenungkan hal-hal surgawi dan kita akan seringkali merasa gembira dalam hati kita

2.2. HAL SIKAP TUNDUK DENGAN RENDAH HATI

1. Hendaklah kita jangan terlalu menghiraukan siapa yang menyetujui atau menentang kita, tetapi hendaklah kita berusaha agar Tuhan selalu beserta kita dalam segala perbuatan kita.Kita usahakan hendaknya, agar hati nurani kita murni dan Tuhan tentu akan melindungi kita. Karena barangsiapa dibantu oleh Tuhan, maka kejahatan orang lain tak akan dapat merugikan dia.Bila kita dapat berdiam diri dan mau menderita sengsara, maka kita akan menerima bantuan Tuhan. Tuhan tahu waktu dan caranya membantu kita, maka itu baiklah kita serahkan diri kita kepadaNya.Tuhan sendirilah yang akan membantu dan melepaskan kita dari segala kesulitan.Untuk mengusahakan agar sikap rendah hati kita menjadi bertambah besar, maka ada baiknya, bahkan berguna sekali, jika orang lain mengetahui kekurangan-kekurangan kita dan menegur kita.
2. Jika orang merendahkan dirinya dengan mengakui kekurangan-kekurangannya, maka ia akan mudah membuat puas hati orang lain dan memperoleh maaf dari orang yang marah kepadanya.Tuhan melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati. Tuhan melimpahkan cintaNya dan memberi hiburan kepadanya. Orang yang rendah hati sungguh dekat pada Tuhan dan diberi rahmat banyak, dan setelah menderita penindasan ia dimuliakan Tuhan.Kepada orang yang rendah hati Tuhan memberitahukan hal-hal yang tersembunyi dan dengan lemah lembut Tuhan akan memanggilnya. Sekalipun ia menderita penghinaan, orang yang rendah hati akan tetap merasa tenteram. Sebab ia tidak bersandar kepada kekuatan dunia, tetapi kepada Tuhan.Janganlah kita mengira, bahwa kita sudah maju sedikitpun, sebelum kita menganggap diri kita sebagai yang terendah di antara semua orang

2.3. HAL ORANG YANG BAIK DAN SUKA DAMAI

1. Bila kita berusaha agar kita memperoleh damai dalam hati kita, maka barulah kita dapat memberi damai kepada orang lain. Orang yang suka damai lebih berguna daripada orang yang cerdik pandai. Sedang orang yang suka marah-marah akan cenderung menerima sesuatu yang baik sebagai menyakitkan hati dan mudah percaya akan perbuatan jahat. Sedang orang yang baik hati dan suka damai melihat sesuatu yang baik di dalam semua kejadian.Barangsiapa sungguh-sungguh dalam damai, tak akan berpikiran jahat terhadap orang lain. Sebaliknya orang yang tak pernah merasa puas dan sifatnya pemarah, akan selalu menaruh curiga terhadap orang lain, ia sendiri tidak merasa tenteram dalam hati dan bagi orang lain ia merupakan rintangan. Seringkali ia mengatakan hal-hal yang mestinya tidak boleh dikatakan, dan melalaikan pekerjaan yang bermanfaat baginya. Pekerjaan yang harus dikerjakan orang lain diselidikinya, tetapi pekerjaannya sendiri ia lalaikan.Maka itu marilah kita rajin terhadap diri kita terlebih dahulu, sesudah itu barulah kita dapat berusaha mengingatkan orang lain.
2. Kita sangat pandai memaafkan perbuatan-perbuatan kita sendiri dan agar orang lain menunjukkan pengertian terhadapnya, tetapi kita tidak bersedia menaruh pengertian terhadap perbuatan orang lain.Padahal mestinya kita harus menyalahkan diri kita sendiri dan memaafkan orang lain.Jika kita ingin supaya orang lain bersabar hati terhadap kita, maka kitapun harus juga bersabar hati terhadap orang lain.Baiklah kita ketahui, bahwa kita masih belum memiliki cintakasih yang sejati dan belum cukup rendah hati, hingga tidak suka marah-marah atau sakit hati terhadap orang lain, kecuali terhadap diri sendiri.Bukanlah hal yang luar biasa jika kita dapat bergaul dengan orang-orang yang lemah lembut. Dengan sendirinya setiap orang senang menjalankan pergaulan semacam itu, setiap orang suka hidup tenteram dan senang bersahabat dengan orang-orang yang sependirian dan seperasaan dengan dirinya. Tetapi dapat hidup tenteram dan bergaul baik-baik dengan orang-orang yang keras hati, atau orang-orang yang tidak mengenal aturan, itulah suatu rahmat besar, suatu tabiat jantan luar biasa yang sungguh-sungguh patu dipuji.
3. Ada orang yang dapat hidup damai dengan dirinya sendiri, demikian pula dengan orang lain. Tetapi ada pula orang yang tidak merasa damai dengan dirinya sendiri, dan kepada orang lain iapun tidak memberi ketenangan hidup. Orang semacam itu menyusahkan orang lain, tetapi sebenarnya ia itu lebih menyusahkan dirinya sendiri.Dan ada pula orang yang mendamaikan diri sendiri dan berusaha mendamaikan orang lain.Tetapi dalam kehidupan yang penuh sengsara ini, ketenteraman kita lebih terletak pada kesabaran yang penuh rendah hati, daripada bila tidak pernah mendapat rintangan apapun. Barangsiapa dapat menahan sengsara sebaik-baiknya ia disebut pemenang atas diri sendiri, berkuasa atas dunia, serta menjadi sahabat Kristus dan ahli-waris surga

2.4. HAL KEMURNIAN HATI DAN MAKSUD YANG JUJUR-SEDERHANA

1. Orang itu dapat terbang mengatasi segala benda duniawi dengan dua buah sayap, yaitu: kejujuran dan kemurnian.Kejujuran harus ada pada maksud kita dan kemurnian pada cinta kasih kita.Kejujuran memandang kepada Tuhan, kemurnian akan memperoleh dan menikmati Tuhan.Tak ada perbuatan baik yang akan mengganggu kita, bila kita dalam hati melepaskan segala keinginan yang tak teratur. Bila kita tidak mencari sesuatu selain agar dapat berkenan kepada Tuhan dan berguna bagi sesama manusia, maka kita akan menikmati kemerdekaan batin.Bila hati kita jujur, maka setiap makhluk akan merupakan cermin bagi kehidupan kita dan merupakan kitab pelajaran yang suci.Semua makhluk meskipun sangat remeh dan hina, selalu memperlihatkan kebaikan Tuhan.
2. Jika keadaan batin kita baik dan murni, niscaya kita akan melihat segala-galanya dengan jelas dan dapat memahaminya dengan baik.Hati murni dapat menembus sampai ke surga dan neraka.Pertimbangan orang tentang keadaan lahir itu selaras dengan perasaan hatinya.Bila ada sesuatu yang menyenangkan di dunia ini, maka orang yang murni hatinya akan menikmatinya.Dan bila terjadi sesuatu yang menggelisahkan atau yang menakutkan, tentu orang yang berhati jahatlah yang akan merasakan.Seperti besi yang dimasukkan di dalam api lalu dibakar sampai membara menjadi bersih kehilangan karat-karatnya, demikian pula halnya orang yang sungguh-sungguh bertobat kepada Tuhan, niscaya akan menjadi bersih daripada kelemahannya, bahkan akan berubah menjadi manusia baru.
3. Jika orang mulai menjadi tawar hatinya, tentu ia akan segan menderita kesulitan, meskipun hanya kecil saja, dan tentu lalu suka menerima hiburan dari luar.Tetapi jika orang berhasil mengalahkan dirinya sendiri sebaik-baiknya dan dengan hati teguh berani melalui jalan Tuhan, maka hal-hal yang dahulu dirasanya berat akan ternyata tidak seberapa

2.5. HAL MEMERIKSA KEADAAN DIRI SENDIRI

1. Kita tidak dapat terlalu percaya kepada diri kita sendiri, sebab seringkali kita tidak mempunyai rahmat dan pengetahuan yang cukup untuk kepercayaan itu. Kita hanya mempunyai nyalanya terang sedikit, dan inipun akan segera padam karena kelalaian.Seringkali kita sendiri tidak mengetahui, bahwa batin kita sungguh masih buta.Kita sering berbuat salah, tetapi kesalahan yang lebih besar ialah, jika kita berusaha memaafkan diri kita sendiri.Kadang-kadang suatu dorongan hawa nafsu kita pandang sebagai semangat jiwa rajin.Kesalahan kecil orang lain kita cela, tetapi kesalahan kita sendiri yang besar kita biarkan saja.Kita lekas merasa tersinggung karena perbuatan orang lain, tetapi kita tidak merasa betapa orang lain menderita karena perbuatan kita.Barangsiapa dapat menilai perbuatannya sendiri secara baik dan adil, ia tentu tidak akan mendapat alasan untuk mengadili orang lain secara kejam.
2. Orang yang memiliki hidup kebatinan akan memperhatikan dirinya sendiri lebih daripada memperhatikan soal-soal lainnya. Dan orang yang dengan sungguh-sungguh dan teliti memperhatikan dirinya sendiri, tentu akan lebih mudah tidak berbicara mengenai keadaan orang lain.Kita tidak akan menjadi orang yang mendalam kerohaniannya dan takwa, jika kita tidak belajar berdiam diri tentang orang lain dan lebih memperhatikan diri kita sendiri.Bila kita mencurahkan perhatian kita kepada diri kita dan Tuhan melulu, maka tidak mudahlah kiranya, bahwa kita akan terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa di luaran.Dimakanah kita harus berada, jika kita tidak mencurahkan perhatian kita terhadap diri kita sendiri? Dan apabila kita sudah menjalankan segala-galanya, apakah gunanya semua itu, jika kita tidak memperdulikan keadaan diri kita sendiri?Apabila kita ingin memiliki damai dan persatuan yang benar-benar dengan Tuhan, kita harus hanya mamandang diri kita sendiri saja dan soal-soal lain semuanya harus kita kesampingkan.
3. Maka itu kita akan maju lebih pesat bila kita dapat membuang segala keruwetan duniawi. Sebaliknya kita akan mundur sekali, jika kita masih memandang pentingnya suatu barang dunia.Janganlah hendaknya ada suatu barang yang kita pandang penting atau kita anggap mulia, atau lagi kita rasakan nikmat dan menyenangkan, kecuali Tuhan dan yang berasal dari Tuhan.Anggaplah sebagai hampa dan tak berguna semua hiburan yang berasal dari makhluk. Jiwa yang mencintai Tuhan memandang rendah semesta alam yang berada dibawah kekuasaan Tuhan.Hanya Tuhan yang abadi dan tak terbatas, yang memenuhi jagad raya, merupakan penghiburan jiwa dan kegembiraan hati sejati

2.6. HAL KEGEMBIRAAN YANG KITA PEROLEH DARI HATI NURANI YANG BERSIH

1. Kegembiraan orang yang baik budinya itu ialah: bukti hati nurani yang bersih. Oleh sebab itu hendaknya kita jaga, agar kita memiliki hati nurani yang bersih, agar kita selalu bergembira.Orang yang mempunyai hati nurani bersih, akan mampu menahan banyak penderitaan, dan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan akan selalu merasa gembira.Sebaliknya hati nurani yang tidak bersih akan selalu merasa takut dan tidak tenang.Jika hati nurani kita tidak mengganggu kita, maka kita akan dapat beristirahat dengan tenang.Janganlah merasa gembira, kecuali setelah kita berbuat baik.Orang jahat tidak pernah merasa gembira benar, dan juga tidak pernah menikmati ketentraman hati. Sebab tak ada damai bagi orang yang durhaka, sabda Tuhan. (Is. 48.22 dan 57.21).Meskipun mereka berkata: Kita merasakan damai, tak ada kejahatan satupun akan menyerang kita; dan siapakah gerangan yang berani merugikan kita? Janganlah percaya. Sebab sekonyong-konyong Tuhan marah, pekerjaan mereka akan dihancurkan, dan pikiran mereka akan musnah.
2. Kegembiraan yang diperoleh dari orang tidak berlangsung lama, hanya sekejap saja. Kegembiraan dunia selalu diikuti kesedihan. Kegembiraan orang yang baik terletak dalam hati yang murni, tidak dalam mulut orang banyak. Kegembiraan orang saleh bersumber pada Tuhan dan ada pada Tuhan, sedang sukacitanya berakar pada kebenaran.Barangsiapa ingin kegembiraan sejati dan kekal, niscaya tidak akan memperdulikan kesenangan dunia yang tidak kekal.Dan barangsiapa mencari kesenangan dunia, atau tidak bersedia melepaskannya dengan sungguh-sungguh, menandakan bahwa ia tidak begitu memperhatikan kegembiraan surgawi.Mereka yang tidak memperdulikan pujian atau celaan, tentu benar-benar menikmati ketenteraman di dalam hati.
3. Orang yang suara hatinya bersih, mudah merasa puas dan tenteram. Orang tidak menjadi lebih suci karena dipuji-puji, sebaliknya juga tidak bertambah jahat karena dicela.Kita tetap seperti apa adanya; pendapat orang lain tidak dapat merubah keadaan kita yang sebenarnya menurut kesaksian Tuhan.Apabila kita perhatikan keadaan batin kita seperti apa adanya, tentu kita tidak akan menaruh banyak minat terhadap apa yang dibicarakan orang lain terhadap diri kita.Orang melihat luarnya, tetapi Tuhan melihat hati orang. Manusia melihat perbuatan, tetapi Tuhan melihat itikadnya.Selalu berbuat baik dan meremehkan diri sendiri, itulah tandanya jiwa yang rendah hati.Tidak menginginkan hiburan mahkluk itulah tandanya hati bersih kepercayaan jiwa yang besar.
4. Barangsiapa tidak mencari kesaksian dunia bagi dirinya sendiri, itulah pertanda bahwa ia telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji oleh Tuhan (2 Kor.10.18).Hidup bergaul dengan Tuhan di dalam hatinya dan tak terikat oleh barang-barang duniawi, demikianlah keadaan orang yang mempunyai semangat hidup batin

2.7. HAL CINTA KASIH TERHADAP YESUS DI ATAS SEGALA-GALANYA

1. Berbahagialah mereka yang mengetahui, apa artinya: mencintai Yesus menganggap hina dirinya sendiri.Demi Tuhan, yang kita cintai itu, kita harus meninggalkan semua lain-lainnya karena Yesus menghendaki supaya kita mencintai Dia di atas segala-galanya.Cinta para makhluk itu penuh tipu dan tak tetap. Tetapi cinta Yesus tetap dan setia.Marilah kita mencintai Dia dan bersahabat dengan Dia, karena Ia tidak akan meninggalkan kita, meskipun semua orang meninggalkan kita, dan akhirnya Ia juga tidak akan membiarkan kita binasa.Sekali waktu kita mau tidak mau harus berpisah dari segala-galanya.
2. Baik hidup maupun mati hendaklah kita berdekatan dengan Yesus dan kita serahkan diri kita kepada kesetiaanNya. Sebab hanya Dialah satu-satunya yang dapat menolong kita, jika segala-galanya meninggalkan kita.Adapun yang dikehendaki oleh Sahabat kita yang terkasih itu ialah, bahwa tidak boleh ada orang lain yang kita cintai keculai Dia. Yesus ingin menguasai hati kita sepenuhnya dan bertakhta di situ bagaikan di atas mahligainya sendiri.Apabila kita berhasil melepaskan diri kita dari segala makhluk, maka Yesus akan berkenan sekali berdiam di dalam hati kita.Hampir semua yang kita temukan di kalangan orang-orang di luar Yesus akan hancur binasa.Janganlah hendaknya kita percaya ataupun bersandar pada ilalang yang digoyangkan angin, sebab segala daging itu bagaikan rumput dan segala kemuliaannya akan layu laksana bunga di ladang (Is.40.6).
3. Segera kita akan merasa tertipu, apabila kita memandang orang lain hanya pada lahirnya saja.Sebab jika kita mencari penghiburan dan keuntungan pada orang lain, maka seringkali kita malah akan menderita rugi.Sebaliknya apabila dalam segala usaha kita mencari Yesus, maka kitapun akan menemukan Yesus.Tetapi jika kita mencari diri kita sendiri, kita juga akan menemukan diri kita sendiri, namun akibatnya kehancuran diri kita sendiri pula.Sebab jika orang tidak mencari Yesus, ia akan merugikan dirinya sendiri lebih daripada kerugian yang dapat dideritanya dari musuh-musuhnya dan dari seluruh dunia

2.8. HAL PERSAHABATAN AKRAB DENGAN YESUS

1. Jikalau Yesus beserta kita, niscaya segala-galanya berjalan baik dan tak ada hal yang kelihatan sulit. Tetapi jika Yesus tidak beserta kita, maka semuanya akan terasa berat dan sulit.Bila Yesus tidak berkenan berbicara di dalam hati kita, maka segala penghiburan tak ada harganya. Apabila Yesus berkata satu patah kata saja, maka kita akan merasa memperoleh hiburan besar.Tidakkah Maria Magdalena seketika itu juga bangkit dari tempatnya menangis, waktu Martha berkata kepadanya: Tuhan ada di sana dan memanggil dikau (Yoh. 11.28).Sungguh bahagialah kita, waktu merasa sedih lalu dipanggil Yesus untuk bergembira di dalam hati.Betapa lesu dan berat rasanya tanpa Yesus! Sangat bodoh dan sia-sialah, jika kita mengindahkan sesuatu di luar Yesus ! Bukankah itu berarti suatu kerugian yang lebih besar daripada kehilangan seluruh dunia?
2. Apa yang dapat diberikan, oleh dunia kepada kita tanpa Yesus ?Tidak dengan Yesus berarti neraka yang celaka, bersama Yesus berarti firdaus yang bahagia.Apabila Yesus bersatu dengan kita, tak ada musuh satupun yang dapat merugikan kita.Barangsiapa menemukan Yesus, ia memperoleh harga sangat besar, lebih besar dari pada harta karun apapun di dunia.Dan barang siapa kehilangan Yesus, ia kehilangan harta benda yang lebih besar nilainya dari pada alam semesta seisinya.Sungguh miskinlah orang yang hidup tanpa Yesus, sebaliknya sungguh kaya rayalah orang yang hidup bersatu dengan Yesus.
3. Dapat bergaul dengan Yesus itu bukanlah soal yang mudah,dan dapat bertahan dalam persatuan dengan Yesus berarti sangat bijaksana.Baiklah kita hidup saleh dan tenteram, maka Yesus akan menetap di hati kita.Kita dapat mengusir Yesus dengan segera dan kehilangan rahmatNya, bila kita mencurahkan perhatian kita kepada dunia luar.Dan apabila kita telah mengusir dan kehilangan Yesus, kepada siapa kita akan mengungsi dan siapa pula yang akan kita ambil sebagai sahabat ?Tanpa sahabat kita tidak dapat hidup bahagia, dan bila Yesus tidak menjadi sahabat kita melebihi sahabat-sahabat kita lainnya, kita tentu akan merasa sangat sedih dan kesunyian.Maka sungguh bodohlah kita jika menaruh kepercayaan dan mencari kesenangan kepada orang lain.Mestinya kita harus lebih berani menentang seluruh dunia daripada berbuat salah terhadap Yesus.Dari antara semua sahabat hendaknya Yesuslah yang harus menjadi sahabat kita yang paling akrab.
4. Semua orang harus kita cintai karena Yesus, tetapi Yesus harus kita cinta demi Yesus sendiri. Hanya Yesus Kristuslah yang patut kita jadikan sahabat yang paling karib, karena hanya Dialah yang paling baik dan paling setia di antara para sahabat kita lain-lainnya.Demi Yesus dan dalam Yesus kita harus cinta kepada semua orang, baik kawan maupun lawan. Untuk semua orang kita harus berdoa, agar mereka semua mengenal Yesus dan cinta akan Dia.Janganlah kita ingin dipuji ataupun dicintai secara istimewa, karena hanya Yesus yang tak ada bandingannya itu, patut dipuji secara istimewa dan dicintai secara luarbiasa.Janganlah kita menghendaki supaya seorang selalu ingat pada kita dalam hatinya, dan janganlah kita sendiri tenggelam dalam cinta pada orang lain. Mudah-mudahan hanya Yesuslah selalu menyertai kita dan semua orang yang baik.
5. Baiklah kita jaga supaya hati kita murni dan bebas, tidak dirintangi oleh makhluk manapun. Kita harus bebas dari segala barang dunia dan mencintai Yesus dengan hati murni, bila kita ingin memperoleh ketenteraman dan hendak menikmati betapa manisnya Tuhan itu (Mazm. 34.9).Dan sesungguhnya kita tidak akan mencapai keadaan itu, bila rahmat Tuhan tidak melindungi dan membimbing kita, sehingga kita dapat mengesampingkan dan meninggalkan segala-galanya serta dapat menyatukan diri dengan Yesus sendiri dan tidak dengan siapapun lainnya.Sebab jika rahmat Tuhan turun di hati orang, maka orang itu lalu mampu mengerjakan segala sesuatu. Tetapi jika rahmat itu meninggalkannya, niscaya ia akan menjadi miskin dan lemah, seakan-akan lalu merupakan umpan segala kesengsaraan.Tetapi dalam menghadapi keadaan semacam itu orang tidak boleh merasa hancur dan putus asa, melainkan dengan rasa menyerah kepada Tuhan orang harus tunduk kepada kehendakNya dan segala sesuatu yang dideritanya hendaknya diterima dengan sabar demi Yesus Kristus. Sebab sehabis musim dingin tibalah musim panas, sehabis malam datanglah siang dan apabila hujan lebat sudah lalu, tampaklah cuaca terang

2.9. HAL TAK ADANYA SEGALA PENGHIBURAN

1. Selama kita menikmati penghiburan ilahi, maka tidak sulitlah mengabaikan penghiburan manusia.Tetapi sungguh suatu hal yang besar, bahkan sangat agung bila kita kuat menderita kekosongan penghiburan baik Ilahi maupun manusiawi. Dan juga suatu hal yang besar pula jika kita untuk memuliakan Tuhan mau menderita kekosongan batin dan dalam apapun juga tidak mencari diri sendiri dan tidak memandang jasa-jasa sendiri.Bukanlah suatu hal yang istimewa, bila kita bergembira dan hidup saleh karena rahmat Tuhan beserta kita. Hal itu memang banyak orang yang menginginkan.Sungguh nikmat rasanya berjalan didukung oleh rahmat Allah.Tidak mengherankan bila orang tidak merasa berat, karena ia didukung Tuhan yang maha kuasa dan dibimbing oleh Sang Pembimbing yang maha tinggi.
2. Kita memang membutuhkan penghiburan dan orang sulit dapat meninggalkan dirinya sendiri.Martelar suci Santo Laurensius telah mengalahkan dunia serta cintanya kepada Uskupnya, sebab ia telah mengabaikan segala sesuatu di dunia yang nampaknya menarik dan nikmat; dan sewaktu Santo Bapa Sixtus, Imam Agung Tuhan yang sangat dicintainya dipanggil kehadirat Tuhan, maka demi cinta kasihnya terhadap Kristus diterimanya hal itu dengan sabar dan hati menyerah.Karena cinta kasihnya terhadap Pencipta semesta alam, Santo Laurensius dapat mengesampingkan kasihnya terhadap manusia biasa dan memilih yang berkenan di hati Tuhan lebih daripada hiburan duniawi.Demikian pula kita harus belajar meninggalkan sahabat yang paling karib dan yang paling kita cintai, demi cinta kasih kita terhadap Tuhan.Lagi pula janganlah kita merasa berat, jika kita ditinggalkan sahabat karib kita, sebab kita tahu bahwa akhirnya pada suatu waktu kita semua harus berpisah satu sama lain.
3. Sebelum orang sama sekali dapat mengalahkan diri sendiri dan mengarahkan cinta kasihnya seluruhnya kepada Tuhan, maka lama sekali orang itu membutuhkan banyak perjuangan melawan hawa nafsunya.Apabila orang hanya bersandar kepada dirinya sendiri, maka ia akan mudah jatuh ke dalam penghiburan manusia.Tetapi barangsiapa sungguh-sungguh mencintai Kristus dan rajin meniru keutamaanNya, tentu tidak akan jatuh ke dalam jurang hiburan dunia dan mencari kenikmatan-kenikmatan semacam itu. Demi cinta kasihnya akan Kristus orang tersebut bahkan akan menjalankan latihan-latihan yang keras serta pekerjaan yang berat.
4. Maka jika kita diberi Tuhan penghiburan rohani, hendaklah kita terima hal itu dengan ucapan syukur dan terima kasih, namun hendaknya janganlah kita lupa, bahwa penghiburan itu bukan diberikan karena jasa-jasa kita, melainkan melulu karena anugerah Allah.Maka itu janganlah kita menjadi sombong karena penghiburan tersebut, janganlah kita bergembira ataupun bangga akan hal itu; malahan hendaknya kita lebih merendahkan diri, lebih berhati-hati dan lebih teliti dalam segala perbuatan kita, sebab saat penghiburan itu akan lewat dan akan tibalah saat percobaan.Jika penghiburan rohani tadi telah lewat, janganlah hendaknya kita menjadi putus asa, tetapi menunggu dengan sabar dan rendah hati datangnya rahmat baru dari surga; Sebab Tuhan itu maha kuasa dan dapat menganugerahkan rahmatNya yang lebih besar daripada yang sudah lewat.Hal itu bukanlah soal baru ataupun luar biasa bagi orang yang sudah paham akan jalannya jejak Tuhan, sebab pada orang-orang suci yang besar dan nabi-nabi jaman dahulu keadaan berubah-ubah semacam di atas itu sering juga terjadi.
5. Oleh sebab itu seorang yang dipenuhi rahmat Allah pernah berseru: Dalam keuntungan saya yang berlimpah-limpah, saya telah berkata: aku tak akan goncang selama-lamanya (Masm. 30.7).Tetapi waktu ia merasa ditinggalkan rahmat Tuhan, maka keluhnya: Engkau telah memalingkan wajahMu dari padaku dan aku menjadi takut karenanya (Masm 30.8).Dan sementara itu ia sama sekali tidak berputus asa, melainkan lebih giat ia berdoa kepada Tuhan: KepadaMu Tuhan aku akan berseru dan memohon kepada Allahku (Masm.30.9).Akhirnya doanya dikabulkan oleh Tuhan dan ia menyatakan hal itu dengan mengatakan: “Tuhan telah mendengarkan daku dan telah melimpahkan rahmatNya kepadaku; Tuhan telah menjadi penolong bagiku.” (Masm. 30.11).“Tetapi dalam hal apakah itu? Engkau telah mengubah ratapku menjadi kegembiraan” demikianlah katanya “dan telah meliputi daku dengan kesukaan” (Masm.30.12).Bila demikian halnya orang-orang kudus yang besar-besar, maka kita yang lemah dan papa ini tidak perlu merasa putus asa, jika suatu waktu merasa bersemangat, pada waktu lain merasa hambar: sebab roh Allah datang dan pergi meninggalkan hati kita, menurut kehendakNya sendiri.Oleh karena itu orang suci Yob berkata: Pagi-pagi Engkau mengunjunginya dan tiba-tiba ia diberi percobaan.(Yob 7.18).
6. Maka siapakah yang dapat kita harapkan selain Allah yang Maha Rahim, atau apa pula yang dapat kita percaya kecuali rahmat Tuhan?Sebab walaupun banyak orang baik, banyak saudara yang setia, sahabat-sahabat yang akrab, kitab-kitab suci, karangan-karangan bagus, nyanyian-nyanyian merdu, semuanya itu tidak banyak faedahnya dan hanya sedikit memberi kepuasan kepada hati kita, jika rahmat Tuhan tidak menyertai kita dan kita dibiarkan sendiri dalam kesunyian dan kemiskinan.Menghadapi saat-saat sedemikian itu sungguh tak ada jalan lain, kecuali sabar menunggu dan menahan diri sesuai kehendak Allah.
7. Setiap orang, sekalipun ia sangat saleh dan hidup taat kepada Tuhan, sekali waktu niscaya mengalami perasaan ditinggalkan rahmat Tuhan dan merasa kurang semangat berolah keutamaan.Tak seorang sucipun, bagaimana tinggi sekalipun martabatnya, yang tidak pernah mengalami godaan-godaan.Sebab tak ada orang yang pantas mengadakan renungan dalam-dalam tentang Tuhan, melainkan dia yang telah terlatih baik dalam sesuatu percobaan.Biasanya setelah adanya percobaan akan menyusul penghiburan.Sebab kepada mereka yang telah mengalami percobaan-percobaan, telah dijanjikan penghiburan surgawi. Tuhan telah bersabda: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberi santapan dari pohon kehidupan. (Wahyu 2.7).
8. Tetapi penghiburan Ilahi itu diberikan agar orang menjadi lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan atau kesusahan.Godaan juga akan menyusul agar orang jangan merasa bangga karena telah menikmati rahmat Tuhan.Si setan tidak tidur dan dagingpun belum mati,maka itu kita mesti selalu siap sedia bertempur, sebab musuh berada di kanan-kiri kita dan tidak mengenal istirahat

2.10 HAL MERASA SYUKUR ATAS RAHMAT ALLAH

1. Mengapa kita selalu ingat istirahat, padahal kita dilahirkan untuk bekerja?Baiklah kita siapkan diri kita lebih dulu untuk kesabaran daripada untuk mengharap-harapkan penghiburan; lebih untuk memanggul salib kita daripada untuk bergembira.Siapa yang hidup di dunia ini yang tidak ingin memperoleh penghiburan rohani dan kegembiraan, seandainya hal itu selalu dapat diperolehnya ?Sebab penghiburan rohani sungguh melebihi kesenangan dunia dan segala kenikmatan daging.Segala kenikmatan dunia itu hampa dan mencemarkan, sedang penghiburan rohani sungguh menyenangkan, sungguh nikmat dan tidak cemar, tumbuh dari oleh keutamaan dan dituangkan oleh Tuhan di dalam jiwa yang suci murni, tetapi tak ada seorangpun yang dapat selalu menikmati penghiburan Ilahi ini sesuai dengan kehendaknya sendiri, karena saat percobaan segera akan datang.
2. Ada hal-hal yang merupakan rintangan besar bagi diturunkan rahmat ilahi itu; kebebasan hati yang semu (palsu) dan kepercayaan pada diri sendiri yang terlalu besar.Tuhan telah berbuat baik dengan menganugerahkan rahmat penghiburan, tetapi manusia berbuat tidak semestinya, jika setelah menerima anugerah itu ia tidak mengembalikan segalanya kepada Tuhan sebagai ucapan syukur terima kasih.Oleh karena itu anugerah rahmat itu tidak dapat terus mengalir ke dalam hati kita, sebab kita tidak berterima kasih kepada yang memberinya dan karena kita tidak mengembalikannya kepada Tuhan, sumber segala rahmat.Orang yang tahu terima kasih akan pemberian rahmat Ilahi, niscaya akan memperoleh rahmat baru lainnya, sedang rahmat yang telah disediakan bagi orang sombong dicabut dan dianugerahkan kepada yang rendah hati.
3. Saya tidak menginginkan penghiburan yang menghilangkan rasa bertobat dan saya tidak mengharapkan hidup muluk yang menyebabkan saya menjadi sombong.Sebab tidak semua yang muluk-muluk itu suci, tidak semua yang nikmat rasanya itu baik, tidak semua keiginan itu murni, dan tidak semua yang disukai orang itu berkenan kepada Tuhan.Dengan senang hati kita harus menerima rahmat yang menyebabkan kita menjadi lebih rendah hati dan lebih taat, lebih tidak mementingkan diri kita sendiri.Jika telah memperoleh pengajaran dari rahmat ilahi dan telah mengalami percobaan dengan dicabutnya rahmat tadi, maka orang tentu tidak berani membanggakan diri, bahwa ia mampu berbuat sesuatu yang baik. Sebaliknya ia mesti mengakui, bahwa ia sangat miskin dan tidak mampu berolah utama.Berilah kepada Allah barang yang Allah punya (Mat. 22.21), dan terimalah barang yang kita punya. Ini berarti: kita mesti berterimakasih kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan kepada kita, dan selanjutnya kita akui, bahwa segala kesalahan dan hukuman yang setimpal itu adalah akibat kelalaian kita sendiri.
4. Baiklah kita memilih tempat paling rendah, niscaya kita akan diberi tempat paling tinggi, sebab tempat tertinggi itu adanya karena tempat yang terendah.Orang-orang suci yang dalam pandangan Tuhan paling tinggi itu, dalam pandangan mereka sendiri adalah yang paling rendah. Makin banyak mereka itu menerima kehormatan, makin rendahlah mereka merasa dirinya.Karena penuh dengan kebenaran dan rahmat ilahi orang-orang suci itu tidak menginginkan kehormatan yang hampa.Karena mereka itu teguh-teguh bersandar pada Tuhan dan memperoleh kekuatan daripadaNya, maka tak mungkinlah mereka menyombongkan diri.Barangsiapa mengakui, bahwa semua yang baik yang telah diterimanya itu berasal dari Tuhan, niscaya tidak mencari kehormatan di kalangan sesama manusia, tetapi hanya menghendaki penghormatan yang berasal dari Tuhan saja. Dan selanjutnya satu-satunya usaha serta harapannya niscayalah selalu agar Tuhan dimuliakan di dalam dirinya sendiri, maupun di dalam diri semua orang saleh, lebih daripada makhluk-makhluk lainnya.
5. Maka itu baiklah kita mengucap syukur atas pemberian Tuhan, bagaimanapun kecilnya, supaya kita pantas menerima yang lebih besar.Juga rahmat yang nampaknya sangat kecil hendaknya kita pandang sangat besar nilainya; dan yang kelihatannya tidak berarti mesti kita hargai sebagai pemberian yang sangat istimewa.Jika kita ingat siapa yang memberi rahmat itu, tentu kita akan yakin, bahwa tidak ada pemberian yang remeh ataupun kurang bernilai, sebab segala sesuatu yang diberikan Tuhan Yang Maha Tinggi itu tak ada yang tidak berharga.Sekalipun seandainya Tuhan menghukum atau mendera, kita masih harus berterimakasih kepadaNya, sebab segala sesuatu yang terjadi pada kita atas ijin Tuhan, maksudnya tidak lain kecuali untuk keselamatan dan kebahagiaan kita.Barangsiapa ingin tetap memiliki rahmat Allah, hendaknya berterimakasih waktu menerima rahmat dan sabar tawakal pada saat-saat rahmat itu ditarik kembali, Tetap memanjatkan doa, agar rahmat lekas diberikan kembali; berhati-hati serta rendah hati, agar rahmat jangan sampai meninggalkan dia

2.11. HAL TIDAK BANYAK JUMLAH ORANG YANG MENCINTAI SALIB KRISTUS

1. Yesus memang mempunyai banyak pengikut yang ingin dimuliakan di surga, tetapi hanya sedikit yang bersedia memanggul salib bersama Dia.Banyak yang ingin menikmati penghiburan Yesus, tetapi hanya sedikit yang sanggup menderita percobaanNya.Banyak sekali yang suka duduk makan bersama Yesus, hanya sedikit yang bersedia ikut serta berpuasa dengan Dia.Semua orang ingin bersukaria dengan Yesus, hanya sedikit jumlahnya yang mau menderita sengsara bersama Yesus.Memang banyak yang mengikuti Yesus sampai saat Ia memecah-mecah roti, tetapi hanya sedikit yang tetap mengikutiNya sampai Yesus minum piala kesengsaraan.Banyak yang menghormati Yesus karena mukjijatNya, tetapi sedikit yang mengikutiNya sampai ke salib, hinaan orang.Banyak yang mencintai Yesus selama mereka tidak mengalami kesukaran.Banyak yang memuji dan meluhurkan Yesus, selama mereka menerima sekedar penghiburan dari padaNya.Tetapi apabila mereka ditinggalkan Yesus sendirian, meskipun hanya sebentar saja, maka mulailah mereka berkeluh kesah atau jatuh ke dalam lembah kesedihan.
2. Lain halnya dengan mereka yang mencintai Yesus melulu karena Yesus, dan bukan karena mereka itu mencari penghiburan bagi dirinya sendiri. Baik di waktu-waktu menderita percobaan dan kesedihan hati, maupun pada waktu memperoleh penghiburan yang sangat nikmat, mereka itu akan tetap memuji dan meluhurkan Yesus.Dan andai kata Yesus tidak berkenan memberikan penghiburan kepada mereka, maka mereka tetap akan memuji dan berterimakasih kepadaNya.
3. Sungguh besar kekuatan cintakasih akan Yesus, yang murni, tanpa pamrih dan tidak campur dengan cinta pada diri sendiri.Tidakkah orang yang selalu menginginkan penghiburan itu boleh disebut pekerja harian?Bukankah orang yang selalu memikirkan nikmat dan keuntungan diri sendiri itu harus dikatakan lebih cinta pada diri sendiri daripada cinta pada Yesus ?Di mana ada orang bersedia mengabdi Kristus tanpa pamrih ?
4. Jarang dapat diketemukan orang yang demikian tinggi hidup batinnya, sehingga ia dapat melepaskan diri dari segala macam ikatan duniawi.Siapa kiranya yang dapat menjumpai orang yang benar-benar bersemangat miskin dan mampu membebaskan diri dari segala makhluk dunia ? Semangat semacam itu merupakan harta yang tak ternilai harganya (Amsal 31.10).Seandainya orang telah menyerahkan segala harta benda kekayaannya, hal itu belum berarti apa-apa.Sekalipun orang melakukan puasa berat dan berolah tapa lama, belum seberapalah itu artinya.Dan sekalipun orang itu pandai dan telah mendalami segala ilmu pengetahuan, namun hal itupun belum besar artinya.Meskipun orang sungguh sangat suci dan jiwa ibadatnya menyala-nyala, jikalau dia belum memiliki satu hal yang sungguh sangat penting sekali baginya maka sebenarnya orang itu masih menderita kekurangan besar.Apakah hal yang satu itu ? Ialah, bahwa setelah meninggalkan segala sesuatu di dunia ini, ia hendaknya mengesampingkan diri sendiri dan segala keinginan dan kepentingan pribadi, sehingga dengan demikian ia lalu tidak terganggu lagi oleh cinta terhadap dirinya sendiri.Selanjutnya setelah merasa sudah mengerjakan apa yang harus ia jalankan, maka hendaknya ia mengetahui, bahwa sebenarnya ia belum mengerjakan suatu apa. Apa yang dipandang tinggi orang lain, tetapi mesti mengakui dirinya sebagai abdi yang tiada berguna, seperti yang telah tertulis dalam kitab Kebenaran: Bila engkau telah melakukan segala sesuatu yang diwajibkan, hendaklah berkata: aku ini hamba yang tiada berguna (Luk 17.10). Demikianlah orang tadi sungguh bersemangat miskin dan berjiwa papa dan bersama-sama dengan Sang Nabi dapatlah ia berseru: Lihatlah, aku merasa sunyi kesepian dan miskin (Masm. 25.16).Tetapi sebenarnya tak ada orang yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih bebas daripada dia yang dapat mengesampingkan segala-galanya dan dirinya sendiri, serta yang tahu menempatkan dirinya di tempat yang paling bawah

2.12. HAL KELUHURAN JALAN SALIB SUCI

1. Bagi banyak orang kata-kata berikut mungkin keras bunyinya: “Hendaklah menyangkal dirimu sendiri, ambillah salibmu dan ikutilah Yesus” (Mat. 16.24; Luk. 9.23).Tetapi lebih keras lagi kedengarannya kata-kata hari terakhir berikut ini: “Pergilah dari hadapanKu, hai laknat, ke dalam api yang kekal” (Mat. 25.41).Mereka yang dalam hidupnya sekarang suka mendengarkan dan mengikuti sabda salib, pada hari terakhir itu tentu tidak akan gentar mendengar diucapkannya putusan kekal tadi.Tanda salib ini akan tampak di langit, apabila Tuhan datang untuk mengadili.Pada saat itu semua hamba salib, yang semasa hidupnya telah menyesuaikan diri dengan Yang disalibkan, akan datang menghadap Hakim-Kristus dengan kepercayaan penuh.
2. Maka itu mengapa kita segan memanggul salib kita ? Padahal salib itulah yang akan membuka jalan ke surga bagi kita !Di dalam salib itulah keselamatan, di dalam salib itulah kehidupan dan di dalam salib itulah perlindungan terhadap musuh-musuh kita. Saliblah sumber kenikmatan surgawi, sumber kekuatan jiwa dan kebahagiaan batin. Di saliblah tempat keutamaan tertinggi dan kesempurnaan hidup saleh.Tak ada keselamatan bagi jiwa selain di salib, tak ada harapan akan hidup kekal kecuali di salib.Maka itu marilah kita panggul salib kita dan marilah kita ikuti jejak Kristus dan kita tentu akan masuk ke hidup kekal.Kristus telah mendahului kita sambil memanggul salibNya (Yoh. 19.17) dan Dia telah wafat di kayu salib untuk kita, agar kita juga mau memanggul salib kita dan mati disalibkan.Sebab apabila kita mati bersama Kristus, kitapun akan hidup bersama Dia pula; dan apabila kita ikut serta menderita bersama Kristus, kitapun akan ikutserta mulia bersama Dia.
3. Baiklah kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa segala-galanya sebenarnya sudah tercakup dalam salib dan dalam mati. Tak ada jalan lain yang menuju ke arah kehidupan dan ketenteraman batin yang sebenarnya, kecuali lewat jalan salib suci dan matiraga setiap hari.Kemanapuan kita pergi dan apapun yang kita cari: di atas tak akan kita menemui jalan yang lebih tinggi, sedang di bawah tak akan kita berjumpa jalan yang lebih aman, selain jalan salib suci.Kita boleh mengatur segala sesuatu menurut kemauan dan keinginan kita sendiri, namun mau tidak mau kita akan selalu berjumpa dengan penderitaan dan kesengsaraan. Demikianlah di mana-mana kita akan selalu bertemu dengan salib.Mungkin salib itu berupa sakit badani, mungkin berwujud kesulitan batin.
4. Kadang-kadang kita merasa ditinggalkan Tuhan, kadang-kadang merasa menderita karena perbuatan sesama manusia. Tetapi cobaan yang lebih berat ialah merasa bahwa kita sering merupakan beban bagi diri kita sendiri.Meskipun demikian tidak ada jalan lain, atau penghiburan yang mampu meringankan beban kita itu selain selama Tuhan masih berkenan, kita harus tahan menderita.Karena Tuhan menghendaki supaya kita belajar menderita tanpa penghiburan, agar kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepadaNya, dan agar oleh penderitaan itu kita menjadi lebih rendah hati.Tak ada orang yang dapat merasakan sungguh-sungguh kesengsaraan Kristus, selain dia yang pernah mengalami penderitaan yang serupa.Jadi di mana-mana salib sudah tersedia dan siap menanti kedatangan kita.Kemanapun kita pergi, tak mungkin kita dapat menghindari salib. Sebab kemanapun kita pergi, kita selalu membawa diri kita sendiri dan kita selalu akan menjumpai diri kita sendiri.Cobalah kita menengadah ke atas, menunduk ke bawah, melihat ke luar ataupun ke dalam, kita akan tetap berjumpa dengan salib. Dan pentinglah kiranya bahwa di mana-mana kita mesti tetap sabar bila kita ingin menikmati ketenteraman batin dan memperoleh mahkota abadi.
5. Jika kita memanggul salib kita dengan senang hati, maka salib akan mendukung dan membimbing kita ke tempat yang kita tuju. Di tempat itu berakhirlah segala macam penderitaan, suatu hal yang di dunia ini tidak akan terjadi.Sebaliknya jika kita memanggul salib kita dengan rasa enggan, maka salib itu justru akan merupakan beban sangat berat bagi kita, padahal kita mesti juga memikulnya.Seandainya kita berhasil meletakkan salib yang satu, salib lain tentu akan muncul, mungkin lebih berat daripada yang dahulu.
6. Tak seorangpun yang pernah hidup di dunia ini berhasil menghindari salib. Apakah kita mengira dapat menghindari hal yang tak pernah ada orang dapat menghindarinya ? Siapa diantara para suci pernah terhindar dari percobaan-percobaan dan hidup tanpa memikul salib ? Bahkan Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, sekalipun hanya satu jam saja, tidak pernah luput dari kesengsaraan, selama hidupnya di dunia ini. Kristus, harus sengsara dan bangkit dari kematian dan demikianlah masuk dalam kemuliaanNya (Luk. 24.26) demikianlah sabdaNya. Jika demikian mengapa kita ingin mencari jalan lain daripada jalan luhur, yang disebut jalan salib suci itu ?
7. Seluruh masa hidup Kristus merupakan salib dan siksaan, sedang kita ingin mencari istirahat dan kesenangan bagi diri kita sendiri.Sangatlah keliru, bila kita mencari lain daripada sengsara dan percobaan, sebab hidup di dunia yang fana ini penuh sengsara dan bertaburkan salib-salib.Semakin maju orang dalam hidup kerohanian, biasanya malah makin beratlah salib yang dijumpainya. Sebab semakin besar cinta kasih orang terhadap Tuhan, semakin besar pulalah rasa sedihnya sebagai orang buangan di dunia.
8. Namun orang yang seringkali menderita bermacam-macam percobaan itu juga tidak terasingkan dari penghiburan sama sekali, sebab dia tahu, bahwa dari penderitaan salibnya itu tumbuhlah buah banyak sekali.Sebab karena orang dengan suka rela bersedia memanggul salibnya, maka segala beban penderitaan lalu berubah menjadi kepercayaan atas penghiburan ilahi.Makin berat orang dibebani penderitaan badani, makin kuatlah jiwanya karena rahmat batin.Kadang-kadang akibat keinginan untuk menyamai Kristus yang disalibkan dan karena kemauan untuk menderita sengsara dan kesusahan, maka jiwa orang malah menjadi demikian kuat dan sentosa, sehingga orang tadi tidak mau luput dari kesusahan dan percobaan. Sebab ia percaya akan lebih berkenan kepada Allah apabila ia makin banyak menderita untukNya.Bukanlah jasa perbuatan manusia, melainkan rahmat Kristus yang mampu membangkitkan kekuatan pada orang yang lemah sifatnya itu, sehingga dengan semangat jiwa besar dan cinta orang bersedia melakukan hal-hal yang berdasarkan sifat kodrat kemanusiaannya ia benci dan ia hindari.
9. Bukanlah sifat manusia untuk memikul salib dengan gembira dan mencintainya, untuk mengekang hawa nafsunya dan menundukkan kemauannya demi untuk mengabdi,untuk menghindari kehormatan, menderita ejekan dengan gembira, meremehkan diri sendiri dan ingin supaya diremehkan orang lain,untuk menderita kemalangan dan kerugian dengan senang hati, untuk tidak mengharapkan kesenangan dan kebahagiaan di dunia sini.Jika kita memandang diri kita sendiri, maka tak adalah kekuatan pada kita untuk berbuat semuanya itu.Tetapi jika kita percaya kepada Tuhan, niscaya akan menerima kekuatan dari surga untuk menguasai dunia dan menundukkan hawa nafsu kita.Terhadap setanpun kita tidak akan takut, bila kita mempunyai senjata iman dan tanda salib Kristus.
10. Maka itu sebagai hamba Kristus yang baik dan setia, marilah kita memberanikan diri memanggul salib Tuhan, yang karena cintakasihNya kepada kita telah disalibkan.Hendaklah kita siapkan diri kita, untuk menderita banyak kepedihan dan bermacam-macam kesusahan selama hidup penuh duka nestapa ini, sebab di manapun juga kita akan mengalaminya, dan di manapun kita bersembunyi, kita akan menemuinya.Memang itu harus kita alami dan tak ada jalan lain untuk menghindari kesukaran dan kesusahan, selain dengan menderitanya.Jika kita ingin bersahabat dengan Kristus dan ikut serta berbahagia dengan Dia, kita mesti bersedia minum pialaNya dengan penuh cinta.Mengenai soal penghiburan sebaiknya hal itu kita serahkan saja kepada kebijaksanaan Tuhan. Tuhanlah yang akan mengatur hal itu sesuai dengan kehendakNya.Bagi kita marilah kita bertahan dalam segala percobaan dan kesengsaraan dan marilah kita pandang semuanya itu sebagai penghiburan yang paling besar, sebab kesengsaraan di dunia sini tak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang (Rom 8.18) sekalipun kita harus menderita sendiri.
11. Apabila kita sudah mencapai tingkatan, bahwa kita dapat merasakan nikmatnya percobaan-percobaan demi kehendak Kristus, maka dapat kita pastikan, bahwa kita berada dalam keadaan baik, karena kita telah menemukan surga di dunia sini.Sebaliknya selama menderita sengsara masih kita pandang berat dan selama kita masih terus berusaha untuk menghindarinya, maka selama itu keadaan kita sungguh masih belum baik. Dan kemanapun kita hendak melarikan diri, pedihnya percobaan akan tetap mengejar kita.
12. Tetapi bila kita berusaha menjalankan tugas kewajiban kita, yaitu menderita sengsara dan siap akan mati, maka keadaan kita akan segera berubah menjadi lebih baik dan kita akan menemukan ketenteraman.Walaupun andaikata kita dinaikkan ke surga ke tiga seperti Santo Paulus, kita belum juga akan luput daripada segala kesukaran. Sebab Yesus telah bersabda: Aku akan memperlihatkan kepadanya, betapa besar kesengsaraan yang harus dideritanya demi namaKu (Kis. Ras. 9.16).Demikianlah kita akan tetap menderita sengsara, jika kita ingin mencintai Yesus dan mengabdi Dia untuk selama-lamanya.
13. Semoga kita pantas menderita sengsara demi nama Yesus. Betapa besar kehormatan yang akan kita terima, betapa besar kegembiraan para orang kudus Tuhan, dan betapa besar pula pengaruh baik kita itu baik orang-orang di sekeliling kita.Sebab semua orang memuji-muji ketahanan hati untuk menderita, tetapi hanya sedikitlah yang benar-benar sanggup menderita sengsara.Sudah menjadi kewajiban kitalah, kalau kita dengan senang hati mau menderita sengsara untuk Kristus, sebab tidak sedikit jumlahnya orang yang bersedia menderita lebih banyak untuk dunia.
14. Sekali-sekali janganlah kita lupa, bahwa mati raga merupakan jalan hidup kita. Makin keras mati raganya, makin bertambah teguhlah orang mulai hidup untuk Tuhan.Tak ada orang dapat memahami soal-soal surgawi, kecuali ia yang bersedia menundukkan dirinya untuk menderita sengsara bagi Kristus.Bagi Tuhan tak ada sesuatu yang lebih berharga dan bagi kita di dunia sini tak ada yang lebih bernilai untuk keselamatan kita, kecuali dengan suka hati bersedia menderita sengsara bagi Kristus.Dan seandainya kita diperkenankan memilih, sebaiknya kita memilih menderita kesengsaraan untuk Kristus, daripada menginginkan menikmati banyak penghiburan. Sebab dengan demikian kita akan lebih mirip Sang Kristus dan lebih menyerupai para Kudus.Sebab ganjaran dan kemajuan hidup rohani kita tidak terletak pada kenikmatan dan penghiburan, tetapi lebih pada penderitaan dan percobaan.
15. Seandainya ada syarat lain yang lebih baik dan lebih berguna bagi keselamatan orang, tentu Kristus telah memberitahukannya kepada kita baik dengan kata-kata maupun dengan teladan.Tetapi kepada para murid yang mengikutinya dan semua orang yang ingin mengikuti Dia, dengan terus terang Kristus telah memberi nasihat: Jika orang ingin mengikuti Daku, hendaknya dia menyangkal diri sendiri dan memikul salibnya serta mengikuti Daku (Mat. 16.24; Luk 9.23).Akhirnya setelah kita membaca semuanya dengan teliti dan merenungkannya dengan seksama, semoga kesimpulan kita ialah: Bahwa kita harus memasuki kerajaan Allah dengan melalui jalan kesengsaraan (Kis. Ras. 14.22).

Mengikuti Jejak Kristus



Tulisan ini diterjemahkan dari tulisan Thomas a Kempis,seorang biarawan imam dari Jerman.Karya besar yang banyak dibaca setelah Injil ini ditulis sekitar abad ke-15 dalam bahasa latin dan kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.Tidak hanya orang biasa yang membaca tulisan ini,melainkan juga tokoh-tokoh terkenal seperti John Wesley,John Newton,Paus Yohanes Paulus I dan Jose Rizal,pahlawan Filipina.
______________________________________________________________________________________

I.1. HAL MENGIKUTI JEJAK KRISTUS DAN MENGABAIKAN SEGALA KESIA-SIAAN DUNIA

1. Tuhan bersabda : Barang siapa mengikuti Daku tiadalah ia berjalan didalam kegelapan (Yoh 8:12).Inilah sabda Kristus untuk menasehati kita supaya kita meniru hidup ketekunanNya, bila kita sunguh-sungguh ingin mendapat terang dan ingin dibebaskan daripada segala kebutaan hati.Karena itu hendaklah kita mengutamakan dan mencurahkan perhatian kita untuk merenungkan kehidupan Jesus Kristus
2. Ajaran Kristus jauh melebihi semua ajaran orang-orang Kudus dan barang siapa yang mempunyai semangat yang sejati akan mendapat makna yang tersembunyi didalamnya. Tetapi sering terjadi bahwa banyak orang, meskipun telah berkali-kali mendengar Injil, rasa rindu mereka kepada Injil hanya kecil sekali, sebab mereka tidak memiliki semangat Kristus.Tetapi barangsiapa ingin memahami sedalam-dalamnya dan menikmati sepenuhinya kata-kata Kristus, hendaklah ia berusaha menyesuaikan hidupnya dengan hidup Kristus
3. Apakah faedahnya mengadakan perdebatan secara mendalam tentang Allah Tritunggal Maha Kudus, apabila kita tidak rendah hati, sehingga Tritunggal tidak berkenan kepada kita ?Bahwasanya : bukan kata yang muluk-muluk membuat orang menjadi suci dan adil, melaikan hidup yang bertakwalah membuat orang berkenan kepada Tuhan.Lebih baik hati kita merasa remuk redam daripada mengerti segala seluk-beluknya.Seandainya kita hafal seluruh Kitab suci dan ucapan-ucapan para ahli filsafat semuanya, apakah gunanya semuanya itu, apabila kita tidak memiliki cinta kasih Allah dan rahmatnya ? Kesia-siaan, sungguh kesia-siaan dan segalanya adalah sia-sia belaka (Eccl. 1. 2), kecuali cinta kasih akan Allah dan mengabdi hanya kepadaNya.Inilah hikmat yang tertinggi : dengan menolak dunia menuju kepada kerajaan surga
4. Maka kesia-siaanlah mencari kekayaan yang fana dan menaruh pengharapan padanya. Kesia-siaan pula mengejar kehormatan dan membanggakan diri.Kesia-siaanlah, menuruti keinginan daging dan menginginkan segala sesuatu yang akhirnya harus mengakibatkan hukuman berat bagi kita.Kesia-siaanlah, mengharapkan umur panjang, tetapi hanya sedikit mengindahkan hidup baik. kesia-siaanlah, mencintai segala yang lewat dengan cepat dan tiada mengejar kebahagiaan yang kekal
5. Hendaklah kita senantiasa ingat akan perkataan ini : bahwa mata tiada pernah puas melihat dan bahwa telinga tiada pernah puas mendengar (Eccl 1.1.8).Maka hendaklah kita berusaha mengelakkan hati kita dari cinta yang kelihatan dan mengarahkannya kepada apa yang tidak tampak.Karena barangsiapa menuruti kenikmatan nafsu rasa, akan menodai hatinya dan kehilangan rahmat Allah

I.2. HAL RASA RENDAH HATI

1. Ingin akan pengetahuan adalah kodrat manusia, tetapi apakah gunanya pengetahuan jika kita tidak takut kepada Allah ?Seorang petani yang rendah hati dan mengabdi kepada Tuhan, sungguh lebih baik daripada seorang ahli filsafat yang congkak, yang menyelidiki ilmu perbintangan, tetapi tiada memperdulikan keadaan jiwanya.Barang siapa mengenal diri sendiri dengan baik, akan merasa hina dan tidak merasa gembira atas pujian orang.Andaikata saya mengetahui segala-galanya, tetapi jika saya tidak memiliki cinta kasih, apakah gunanya semua itu bagi saya terhadap Allah yang akan mengadili saya sesuai dengan perbuatan saya ?
2. Hendaklah kita membuang segala keinginan akan pengetahuan yang melampaui batas, karena hal itu hanya menimbulkan banyak kebingungan dan kekecewaan saja.Mereka yang banyak pengetahuannya biasanya suka menjadi orang terkenal dan disebut orang pandai.Banyak pengetahuan yang hanya sedikit, bahkan sama sekali tidak bermanfaat bagi jiwa.Sungguh tidak bikjaksana orang mengejar segala apa saja, kecuali yang berguna bagi keselamatan jiwanyaBanyak bicara tentang ilmu tidak memuaskan jiwa, tetapi hidup saleh akan menenangkan hati dan hati yang murni akan menjadikan hubungan kita dengan Allah lebih erat dan mesra
3. Semakin luas dan dalam pengetahuan kita, semakin keras kita akan diadili, jika hidup kita tidak menjadi semakin saleh seimbang dengan pengetahuan kita itu.Oleh sebab itu janganlah kita membanggakan diri atas kecakapan ataupun pengetahuan kita, tetapi lebih baik kita takut akan tanggung jawab atas pengetahuan yang diberikan kepada kita.Bila kita menyangka, bahwa kita tahu akan banyak hal dan merasa paham tentang soal-soal itu, ingatlah bahwa masih banyak hal lain yang tidak kita ketahui.Janganlah mempunyai anggapan tinggi tentang dirimu sendiri (Rom 11:20), melainkan akuilah, bahwa sesungguhnya kurang pengetahuan kita.Mengapa kita menganggap diri kita lebih tinggi dari pada orang lain, sedangkan masih banyak orang lain yang lebih pandai dalam bidang kaidah-kaidah agama dari pada kita ?Apabila kita ingin mengetahui dan mempelajari apa yang berguna bagi kita, sebaiknya kita suka tetap tinggal tidak terkenal dan tidak diindahkan umum.Anjuran yang baik dan paling berguna ialah sungguh-sungguh mengenal diri sendiri dan memandang diri sendiri sebagai orang hina.Tidak menyukai diri sendiri dan senantiasa beranggapan bahwa orang lain itu baik hati dan ramah, itu merupakan sifat-tabiat yang sangat bijaksana dan sempurna.Biarpun kita melihat orang lain berbuat dosa, bahkan melakukan kejahatan yang besar, janganlah sekali-kali menganggap bahwa diri kita lebih baik daripada orang itu. Sebab kita sendiri tidak tahu berapa lama kita masih akan tetap kuat dalam keadaan yang baik. Kita semua lemah, kita tidak boleh menganggap bahwa orang lain lebih lemah daripada kita

I.3. HAL AJARAN KEBENARAN

1. Berbahagialah orang yang langsung diajari oleh Kebenaran, tidak oleh gambaran-gambaran dan kata-kata yang fana, melainkan oleh kebenaran yang sejati.Pikiran dan dan perasaan kita sering menyesatkan kita dan hanya mampu membuka selubung kebenaran sedikit saja.Apakah gunanya banyak berdebat mengenai pelbagai soal yang tersembunyi dan gelap, padahal soal tersebut nantinya dalam pengadilan tidak akan dipertanggung-jawabkan kepada kita, karena kita tidak mengetahui tentang hal itu ? Bodoh sekali kiranya apabila kita melalaikan apa yang berfaedah dan sangat penting artinya, dengan lebih mengutamakan soal yang menarik hati kita tetapi yang sungguh berbahaya. Kita mempunyai mata tetapi tidak melihat
2. Dan mengapa kita meributkan bermacam-macam hal ?Apabila Sabda yang kekal berbicara kepada kita, niscaya kita terlepas dari bermacam-macam faham.Dari Sabda yang Esa berasal segala-galanya menjadi saksi tentang yang Esa ini, dan Sabda itulah yang pada permulaan juga berbicara kepada kita (Yoh 8:25).Tanpa Dia tak seorangpun memahami atau mempertimbangkan suatu soal dengan baik. Orang yang memahami bahwa segala perkara itu adalah satu dan pula mengembalikan segalanya kepada satu itu dan segalanya dipandang dalam hubungannya dengan satu tadi, orang itu akan tenteram dalam hati dan dalam keadaan damai dengan Allah.Ya Allah yang bersifat kebenaran, persatukanlah kami dengan Dikau dalam cinta kasih yang kekal.Seringkali saya merasa menyesal karena saya banyak membaca dan mendengar. Pada Dikaulah tedapat segala-galanya yang saya cita-citakan dan saya inginkan.Buatlah mereka diam yang memberi hikmat manusia dan buatlah bisu semua mahluk dihadiratMu. Bersabdalah Engkau, ya Engkau sajalah kepada kami
3. Semakin banyak orang memperhatikan kebatinannya dan makin bersatu keadaan batinnya, semakin banyak dan semakin luhur pula perkara yang dapat difahami dengan mudah, karena dari atas ia menerima penerangan untuk memahami segalanya itu. Jiwa yang murni, bersahaja dan teguh, tidak akan terganggu oleh pekerjaannya yang banyak, karena ia melakukan segalanya untuk kemuliaan Allah dan selalu diusahakannya dalam hati untuk membuang segala keinginan mencari kepentingan diri sendiri. Tak ada rintangan yang lebih menyulitkan dan menyusahkan jalan kita daripada cita-cita hati yang tidak kita kendalikan.Orang yang baik dan takwa lebih dahulu akan memikirkan apa yang diperbuatnya, sebelum dia menyingsingkan lengan bajunya.Dengan jalan ini dia tidak akan terseret oleh keinginan-keinginan yang tidak teratur, melainkan dia sendirilah yang akan mengemudikan keinginan-keinginannya selaras dengan akal sehat.Tidak ada seorangpun yang berjuang lebih hebat daripada orang yang menundukkan dirinya sendiri.Dan inilah yang harus menjadi tugas kita : menundukkan diri sendiri dan setiap hari semakin menguasai diri kita dan semakin maju dalam kebaikan
4. Segala kesempurnaan dalam hidup ini biasanya masih mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan segala pandangan kita kebanyakan tentu masih berkabut.Tahu akan diri sendiri dengan kerendahan hati adalah jalan yang lebih aman menuju Allah daripada pemeriksaan mendalam dan teliti berdasarkan ilmu pengetahuan.Sudah barang tentu kita tidak boleh mencela ilmu atau pengetahuan yang sederhana mengenai hal apapun juga, yang pada hakekatnya adalah baik dan diatur oleh Tuhan, tetapi tidaklah dapat diingkari bahwa suara hati yang baik dan hidup bertakwa adalah lebih baik daripada semuanya ini.Sebab justru oleh karena banyak orang lebih mengutamakan ilmu daripada hidup yang baik, maka seringkali mereka itu tersesat dari jalan yang benar dan pekerjaannya hanya menghasilkan buah sedikit atau tidak berbuah sama sekali
5. Ah, seandainya mereka dalam membasmi kejahatannya dan menanam kebajikannya sama rajinnya seperti bila mereka mengemukakan soal-soal, alangkah kurangnya kejahatan dan batu sandungan dalam masyarakat, serta alangkah berkurangnya pula semangat lemah dalam biara-biara.Sungguh, pada hari kiamat tidak akan ditanyakan kepada kita, apakah yang telah kita baca, melainkan apakah yang telah kita perbuat. Tidak akan ditanyakan apakah kita berbahasa yang indah, tetapi apakah kita hidup di dunia dengan baik.Cobalah katakan : dimana sekarang tuan-tuan besar dan orang cerdik pandai, yang semasa hidupnya kita kenal begitu baik, serta nama-nama kehormatan yang setinggi-tingginya.Orang-orang lain sudah merebut kedudukan dan menguasai kekayaan yang telah mereka tinggalkan, namun saya tidak tahu apakah orang-orang lain itu masih ingat kepada tuan-tuan tadi.Selama masih hidup mereka itu seolah-olah merupakan orang istimewa, tetapi sekarang sesudah meninggal dunia tak seorangpun yang mempercakapkan mereka lagi.
6. Ah, alangkah cepatnya kemegahan dunia ini berlalu !Seandainya hidup mereka sesuai dengan pengetahuannya, niscaya mereka akan belajar dan memberikan pelajaran dengan baik.Betapa banyaknya orang yang hanya sedikit mementingkan pengabdiannya kepada Allah dan hanyut dalam dunia ini karena ilmunya yang sia-sia.Lagi pula mereka lebih suka menjadi orang yang ternama daripada orang yang rendah hati, maka mereka menjadi kegila-gilaan dalam pikirannya.Sungguh mulia orang yang memiliki cinta kasih yang besar.Sungguh mulia orang yang merasa tidak berarti dalam pandangannya sendiri dan tiada menghargai kehormatan yang setinggi-tingginya.Sungguh bijaksanalah orang yang menganggap segala barang duniawi sebagai sampah (Phil 3:8) agar mereka dapat memperoleh Kristus.Dan sungguh mahir-cerdiklah ia, yang menjalankan kehendak Allah dan mengesampingkan kehendaknya sendiri

I.4. HAL BIJAKSANA DALAM TINGKAH LAKU

1. Janganlah kita percaya kepada setiap perkataan ataupun dorongan, tetapi pertimbangkanlah tiap-tiap perkara dengan tenang dan seksama apakah itu sesuai dengan kehendak Allah.Tetapi sayang, seringkali kita lebih percaya akan keburukan orang lain daripada akan kebaikannya dan lebih mudah membicarakan keburukannya daripada kebaikannya, begitu lemahlah kita.Tetapi orang yang sempurna tiada begitu lekas percaya kepada cerita sembarang orang, karena ia mengetahui kelemahan orang yang cenderung kepada kejahatan dan yang sangat mudah tergelincir dalam kata-katanya
2. Sungguh sangat bijaksana, apabila kita tidak tergesa-gesa berbuat dan tidak mempertahankan pendapat sendiri dengan keras kepala.Juga bijaksana apabila kita tidak mempercayai setiap perkataan orang dan tidak segera menceriterakan kepada orang lain apa yang kita dengar atau yang kita anggap benar.Hendaklah kita minta nasihat kepada orang orang yang bijaksana dan mempunyai tanggung jawab, lebih baik kita diberi penerangan oleh orang yang lebih banyak pengalamannya daripada menurut pandangan sendiri.Hidup yang baik akan membuat manusia bijaksana dihadapan Allah dan paham dalam banyak hal.Semakin rendah hati seseorang dalam batinnya dan semakin tunduk ia kepada Allah, maka semakin bijaksana dan semakin tenanglah ia dalam segala hal

I.5. HAL MEMBACA KITAB SUCI

1. Didalam Kitab suci kita harus mencari kebenaran dan bukanlah kata-kata yang indah.Kitab Suci seluruhnya hendaknya dibaca dalam jiwa, seperti kitab tersebut ditulis.Lebih baik didalam Kitab Suci mencari apa yang berfaedah bagi kita daripada mencari keindahan bahasa.Kesukaan membaca kitab-kitab keagamaan dan bersahaja hendaknya sama dengan kesukaan kita membaca kitab-kitab yang luhur-luhur dan dalam-dalam isinya.Janganlah kita perdulikan, apakah penulisnya itu banyak ilmunya atau sedikit, hanya cinta kepada kebenaranlah hendaknya yag mendorong kita untuk membaca.Janganlah kita bertanya, siapa yang mengatakan, tetapi perhatikanlah apa yang dikatakan
2. Manusia itu berlalu, tetapi kebenaran Tuhan tetap tinggal selama-lamanya (Ps 116:2).Dengan berbagai cara Tuhan bersabda kepada kita tanpa memandang keadaan diri kita. Keinginan kita untuk mengetahui segala-galanya seringkali merupakan rintangan pada waktu kita membaca Kitab Suci, karena kita sengaja mau mengetahui apa yang mestinya lebih baik kita lampaui begitu saja.Apabila kita ingin mengambil faedah dari apa yang kita baca, hendaklah kita membaca dengan rendah hati, bersahaja dan setia, dan janganlah menginginkan agar mendapat nama sebagai orang berilmu.Hendaklah suka bertanya dan dengarkanlah dengan tenang kata-kata orang suci. Janganlah kita tersentuh pada teladan-teladan para bapa-penulis kita, karena ada juga sebabnya mengapa perkara-perkara itu tercantum dalam Kitab Suci

I.6. HAL KEINGINAN HATI YANG TERATUR

1. Berulangkali hati kita menjadi tidak tenteram apabila kita menginginkan sesuatu secara tidak teratur.Orang yang sombong dan yang kikir tidak pernah tenteram hatinya, tetapi orang yang berjiwa miskin serta rendah hati hidup dalam damai sepenuhnya.Orang yang belum dapat menyangkal dirinya sendiri dengan sungguh-sungguh akan segera tergoda dan terkalahkan dalam hal-hal yang kecil dan tak berarti.Barangsiapa masih lemah dalam hal kerohanian dan masih agak lekat kepada kenikmatan daging serta masih cenderung kepadanya, akan sukar melepaskan diri daripada keinginan-keinginan duniawi.Oleh karena itu akibatnya ia akan merasa susah, bilamana ia harus melepaskan barang sesuatu dan perasaannyapun akan mudah tersinggung apabila seseorang merintanginya
2. Tetapi jika ia memperoleh apa yang diinginkan, maka ia akan merasa menyesal, karena ia telah menuruti hawa nafsu, yang tidak mendekatkannya kepada perdamaian hati yang dirindukan setiap orang. Maka ketentraman hati yang sebenarnya tidaklah diperoleh dengan menuruti keinginan hawa nafsu, melainkan dengan menentang desakannya.Oleh karena itu ketentraman hati tidaklah terdapat pada orang yang masih lekat pada kenikmatan daging, juga tidak pada mereka yang sangat mementingkan hal-hal lahiriah, melainkan pada mereka yang rajin dan bersemangat di dalam perkara-perkara rohani

I.7. Hal melepaskan diri dari pengharapan yang sia-sia dan kecongkakan

1. Sungguh bodohlah orang yang menaruh harapannya kepada sesama manusia atau mahluk Tuhan lainnya.Baiklah kita jangan merasa malu melayani orang lain demi cinta kasih akan Jesus Kristus dan dipandang sebagai orang miskin di dunia ini.Janganlah kita bersandar atas diri sendiri, melainkan taruhlah harapan kita hanya kepada Allah.Apabila kita bekerja sebaik-baiknya dengan segala tenaga yang ada pada kita, niscaya Tuhan membantu kemauan kita yang baik itu.Janganlah kita terlalu percaya akan pengetahuan kita atau akan kecerdasan orang, tetapi letakkanlah kepercayaan kita kepada rahmat Allah. Allah membantu mereka yang rendah hati, tetapi merendahkan mereka yang meninggikan dirinya
2. Hendaknya kita jangan membanggakan diri atas kekayaan jika kita memilikinya dan janganlah merasa bangga akan sahabat-sahabat yang berkuasa, pangkat dan sebagainya, melainkan banggalah akan Tuhan. Tuhan yang memberikan segala kebutuhan kita, kecuali itu bahkan masih menganugerahkan diriNya sendiri kepada kita.Janganlah kita membanggakan kekuatan atau keelokan badan kita yang karena penyakit sedikit saja mudah menjadi rusak dan jelek.Hendaknya kita juga tidak suka merasa puas atas kecakapan atau kepandaian yang ada pada kita. Kepuasan serupa itu menyebabkan kita kurang berkenan di mata Tuhan, yang memang menjadi sumber segala baik yang ada pada kita
3.Janganlah beranggapan, bahwa diri kita lebih baik daripada diri orang lain, agar supaya kita dalam pandangan Tuhan, yang mengetahui segala yang ada di dalam hati sanubari manusia, tidak lebih jelek daripada orang-orang lain.Janganlah kita menyombongkan diri atas pekerjaan kita yang baik,sebab pertimbangan Tuhan berlainan dengan pertimbangan orang. Sering kali terjadi, bahwa sesuatu yang disukai orang tiada berkenan kepada Allah.Andaikata kita memiliki suatu kebaikan, hendaklah kita pikirkan, bahwa orang lain memiliki kebaikan lebih banyak. Jadi dengan demikian kita tetap rendah hati.Tidak ada jeleknya apabila kita menganggap diri kita lebih rendah daripada orang lain. Sebaliknya sangatlah merugikan apabila kita menempatkan diri kita meskipun hanya di atas satu orang lain saja.Ketentraman hati selalu ada pada orang yang rendah hati. Tetapi di dalam dada seorang yang congkak seringkali membara rasa iri-hati, dengki dan sakit-hati

I.8. HAL MENGHINDARI PERGAULAN YANG TERLAMPAU RAMAH

1. Janganlah membuka isi hatimu terhadap setiap orang (Eccl 8.22) melainkan rundingkanlah kesulitan hatimu dengan orang yang budiman lagi saleh. Batasilah pergaulanmu dengan orang-orang muda dan mereka yang belum kau ketahui siapakah mereka itu. Hendaknya janganlah kita merayu orang-orang kaya, berpangkat atau berkedudukan tinggi. Tetapi eratkanlah hubunganmu dengan orang-orang yang rendah hati lagi bersahaja. Bicarakanlah dengan mereka soal-soal yang bermanfaat untuk perbaikan.Janganlah terlalu akrab dengan seorang wanita satupun juga, melainkan serahkan wanita-wanita utama kepada Tuhan supaya diberkatiNya. Hanya dengan Allah dan para MalaikatNya sajalah hendaknya kita bergaul dengan bebas dan ramah dan baiklah kita hindari pergaulan di kalangan orang banyak
2. Kita harus menaruh cinta kasih kepada setiap orang, tetapi terlalu akrab dengan mereka tidaklah berguna. Kadang-kadang terjadi bahwa seorang yang tidak kita kenal, telah mempunyai nama baik yang gilang-gemilang, tetapi segera kita berhadapan dengan orang tersebut dan berkenalan dengan dia, maka lenyaplah kegemilangan namanya itu.Kadang-kadang kita menyangka, bahwa pergaulan kita sangat menyenangkan orang-orang lain. Padahal sesungguhnya kita sangat membosankan mereka, disebabkan oleh tingkah laku kita yang mereka anggap salah dan tidak sesuai dengan kehendak mereka

I.9. HAL TAAT DAN PATUH

1. Sungguh sangat luhur, bila kita mau menurut, hidup dibawah perintah dan tidak hidup bebas tanpa perintah.Sungguh lebih aman menjadi orang bawahan, daripada menjadi orang atasan yang harus memberi perintah.Kebanyakan orang mau menjadi orang bawahan, bukan karena rasa cinta, melainkan karena terpaksa. Oleh karena itu mereka merasa berat dan mudah bersungut-sungut. Dengan jalan itu mereka tidak memperoleh kemerdekaan rohani, kecuali apabila mereka dengan segenap hati tunduk kepada atasan karena cintanya kepada Allah.Kemanapun kita pergi, tiada kita akan memperoleh ketentraman hati sebelum kita tunduk kepada kekuasaan yang lebih tinggi. Senantiasa ikhtiar untuk pindah tempat dan kedudukan telah mengecewakan banyak orang
2. Sudah tentu setiap orang suka melakukan kehendaknya sendiri dan paling tertarik kepada mereka yang sepaham dengan dia sendiri. Tetapi bila Allah berada di tengah-tengah kita, kadang-kadang perlu kita mengesampingkan pendapat kita sendiri untuk mendapat perdamaian. Siapakah yang begitu berhikmat, sehingga ia dapat mengetahui segala-galanya ? Oleh karena itu baiklah kita jangan terlalu mempertahankan pendapat kita sendiri, melainkan kita mempertimbangkanlah sedalam-dalamnya pendapat-pendapat orang lain.Meskipun kita merasa bahwa pendapat kita itu benar, namun bila kita bersedia mengikuti pendapat orang lain demi cinta kasih kita kepada Tuhan, maka kelak akibatnya hal ini akan lebih berfaedah bagi kita
3. Sebab barangkali telah kita dengar, bahwa lebih aman mendengarkan dan menerima nasihat daripada memberikannya. Mungkin juga, bahwa pendapat yang satu, maupun yang lain, kedua-duanya adalah benar. Tetapi apabila kita tidak bersedia menyetujui pendapat orang lain tadi, meskipun pikiran sehat atau alasan cukup menghendaki, supaya kita menyetujuinya, maka hal itu adalah suatu tanda, bahwa kita sombong dan keras kepala

I.10. HAL MENGHINDARI PERCAKAPAN YANG TIDAK PERLU

1. Hendaklah kita sedapat mungkin mengundurkan diri dari keributan suasana di sekitar kita. Sebab banyak mempercakapkan kejadian-kejadian dunia itu pengaruhnya sangat merugikan, sekalipun maksud kita itu baik. Dalam sekejap mata saja hati kita akan terpengaruh dan terjerat dalam hal-hal yang tak berguna.Bukankah kita sering kali telah merasa menyesal atas pembicaraan kita yang berlebih-lebihan, dan menyesal juga, bahwa kita terlampau banyak berkumpul dengan orang banyak ?Tetapi mengapa kita suka sekali berbicara yang dengan yang lain, meskipun sesudah berbicara-bicara itu kita jarang sekali kembali dengan hati tenteram ?Adapun sebabnya ialah karena dengan percakapan itu kita mencari hiburan dan ingin membuka hati kita yang tertekan oleh bermacam-macam pikiran dan terutama kita gemar membicarakan dan memikirkan hal-hal yang kita sukai atau yang kita ingini, ataupun yang berlawanan dengan keinginan kita
2. Tetapi sayang ! semuanya itu seringkali tak berfaedah dan tak berguna. Sebab hiburan lahir semacam itu tidak sedikit mengurangi hiburan batin dari Tuhan.Karenanya baiklah kita berjaga dan berdoa, agar waktu kita tidak lewat tanpa hasil apa-apa.Jika kita boleh berbicara dan ada gunanya untuk berbicara, baiklah kita pergunakan pembicaraan itu untuk membangun.Kebiasaan kita yang salah dan kelalaian kita atas kemajuan dalam kehidupan rohani itulah yang banyak menyebabkan kita tak menjaga mulut kita lagi.Untuk pertumbuhan yang sehat bagi kehidupan rohani, adalah baik bila kadang-kadang kita mengadakan pembicaraan tentang soal-soal kerohanian; lebih baik bila orang-orang yang mengambil bagian pada pembicaraan itu sehati dan sejiwa, serta merasa bersatu di dalam Allah

I.11. HAL MEMPEROLEH KETENTRAMAN HATI SERTA PERKEMBANGAN ROHANI

1. Sesungguhnya kita dapat merasa lebih tenteram, asal saja kita tidak mau memperdulikan perkataan dan perbuatan orang lain, yang tiada berurusan dengan kita.Bagaimana orang dapat tenteram hatinya, bila dia mencampuri urusan orang lain ? bila dia mencari kesenangan di luar dan jarang atau tidak pernah merenung di dalam hati ?Bahagialah sekalian orang yang bersahaja, karena mereka akan merasakan ketenteraman yang besar
2. Mengapa beberapa orang suci dapat mencapai kesempurnaan yang begitu tinggi dan mencapai sinar terang di dalam pikirannya ?Karena mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan segala keinginan duniawi di dalam dirinya; dan oleh karena itu dapatlah mereka dengan segenap hati mencapai hubungan yang sangat erat dengan Tuhan dan dengan tanpa gangguan dapatlah mereka memurnikan hatinya.Sebaliknya kita terlalu banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu kita sendiri dan sangat mudah terpengaruh pula oleh perkara-perkara yang lalu melintas.Juga jarang kita dapat sama sekali mengalahkan satu kejahatan saja yang ada pada kita dan kita tiada berusaha sungguh-sungguh untuk maju setiap hari. Itulah sebabnya maka kita tetap dingin dan acuh tak acuh
3. Jika kita telah benar-benar mematikan “diri” kita, dan bila hati kita tidak terlibat di dalam perkara-perkara duniawi, niscaya kita sudah dapat mengenyam kenikmatan Ilahi dan telah dapat sedikit mungkin mengetahui sinar cahaya kebahagiaan.Satu-satunya rintangan serta halangan yang terbesar ialah, karena kita tidak terlepas dari dari hawa nafsu serta keinginan-keinginan kita dan tidak mencoba melalui jalan yang sempurna seperti orang-orang suci.Lagi pula jika kita sedikit saja mengalami kegagalan atau merasa kecewa, kita lekas putus asa dan pergi mencari hiburan pada sesama manusia
4. Jika kita berusaha seperti perwira yang kuat, untuk tetap berdiri dalam perjuangan, niscaya kita akan melihat pertolongan Tuhan dari surga.Karena Allah selalu bersedia membantu orang-orang yang sedang berjuang dan yang mengharapkan rahmatNya. Memang Tuhan sendirilah yang memberi kesemapatan kepada kita untuk berjuang agar kita dapat mencapai kemenangan.Jikalau memenuhi kewajiban-kewajiban lahir saja sudah kita angap sebagai kemajuan rohani, maka kita akan lekas padamlah semangat kita.Karenanya hendaklah kita menaruh kampak pada akarnya, supaya kita sesudah membersihkan dari hawa nafsu, dapat memperoleh ketentraman hati
5. Jika setiap tahun kita berhasil memberantas satu kejahatan saja di dalam diri kita, maka dalam waktu singkat kita akan menjadi orang-orang yang sempurna.Tetapi sekarang dengan menyesal kita seringkali mengalami, bahwa kita pada waktu baru bertobat, lebih baik dan lebih murni keadaan jiwa kita daripada sesudah hidup membiara bertahun-tahun lamanya.Mestinya kerajinan serta kemajuan kita tiap hari harus makin bertambah, tetapi sekarang sudah dipandang sebagai suatu keistimewaan, bila orang masih mempunyai sebagian saja dari kegiatannya semula.Bilamana pada permulaan kita mau bertindak sedikit keras terhadap diri kita sendiri, niscaya di kemudian hari kita dapat menjalankan semuanya dengan mudah dan gembira
6. Meninggalkan kebiasaan yang lama memang berat; tetapi yang lebih berat lagi ialah : menentang kehendak diri sendiri.Padahal jika kita tidak mampu mengalahkan diri kita sendiri dalam hal yang kecil-kecil, bagaimana kita dapat menundukkan diri kita dalam kesukaran-kesukaran yang sungguh-sungguh besar ?Ah, alangkah baiknya kalau kita insyaf, bahwa kita dapat memberi damai kepada diri kita sendiri dan menyediakan sukacita kepada orang lain, apabila kita mau mengendalikan diri kita sendiri. Maka saya percaya, bahwa kita akan lebih memperhatikan kemajuan kita di bidang kerohanian

I.12. HAL FAEDAHNYA KESUSAHAN

1. Sungguh berguna apabila kita pada suatu ketika mengalami kesulitan, kegagalan, ataupun penderitaan, karena hal itu sering membuat hati manusia menjadi sadar, bahwa ia masih hidup di dalam pembuangan dan agar supaya ia tidak menaruh harapannya di atas salah satu barang duniawi.Ada baiknya, kalau kita sekali-sekali dibantah orang dan bilamana orang-orang menyangka yang jahat serta salah tentang kita, walaupun sebenarnya kita berbuat baik dan dengan tujuan baik pula.Semua itu sering berguna untuk membuat kita rendah hati dan menjaga kita terhadap sikap sombong yang hampa.Dengan demikian kita akan lebih banyak mencari Allah, yang menjadi saksi atas keadaan jiwa kita, bila orang-orang menghina kita dan sedikitpun tidak mempunyai anggapan baik terhadap diri kita
2. Oleh sebab itu hendaknya orang teguh berakar dalam Tuhan, agar ia tidak perlu mencari hiburan pada orang lain.Apabila orang yang berkehendak baik tersiksa atau tergoda, ataupun terganggu oleh pikiran-pikiran yang jahat, maka ia akan merasa, betapa ia membutuhkan Allah dan insyaflah ia, bahwa ia tidak dapat berbuat baik sedikitpun juga, bila Tuhan tidak menyertainya.Maka ia akan merasa sedih, mengeluh dan berdoa, disebabkan karena keadaannya yang menderita, maka ia merasa jemu hidup lebih lama lagi dan ingin mati, supaya dapat bebas dan bersatu dengan Kristus (Phil. 1 : 22).Demikianlah ia akan mengerti dengan jelas, bahwa ketenangan hati yang sempurna dan ketentraman yang tak dapat digoncangkan tidak mungkin ditemukan di dunia ini

I.13. HAL MENOLAK GODAAN

1. Selama kita hidup di dunia ini, tak mungkin kita luput atau bebas dari penderitaan dan godaan.Oleh sebab itu tertulislah dalam kitab Ayub : Percobaan adalah hidup manusia di atas dunia (Ayub 7 : 1).Oleh karena itu setiap orang wajib waspada terhadap godaan-godaan dan berjaga-jaga serta berdoa, agar supaya setan yang tidak pernah tidur melainkan berkeliling serta mencari siapa yang dapat ditelannya (1Ptr 5 : 8) tidak mendapat kesempatan untuk memperdayakannya.Tak ada seorangpun yang sempurna dan suci, sehingga dia tidak pernah digoda. Tak mungkin kita terlepas sama sekali daripada godaan
2. Tetapi godaan-godaan itu biarpun sukar dan berat, seringkali sangatlah berguna bagi manusia sebab karena semua itu manusia menjadi rendah hati, bersih, lagi pula menerima pelajaran.Semua orang kudus telah mengalami banyak percobaan serta godaan dan oleh karena itu mereka memperoleh perkembangan rohani. Mereka yang tidak kuat mengadakan perlawanan terhadap godaan telah terbuang dan hanyut.Tak ada satupun ordo (konggregasi) yang begitu suci, atau tempat yang begitu terpencil dan sunyi, sehingga disitu orang bebas dari godaan dan kesusahan hidup
3. Selama manusia hidup di dunia ini, selama itu tiada pernah dia bebas dari godaan. Sebab godaan itu bersumber dari dalam diri kita sendiri : Karena manusia dilahirkan di dalam keinginan daging.Baru saja godaan yang satu berlalu, maka sudah muncullah percobaab yang lain, dan begitu terus-menerus ada-ada saja yang kita alami, karena hak menikmati keadaan bahagia yang semula kita miliki sudah lenyap.Banyak orang berusaha menghindari percobaan-percobaan itu, tetapi akibatnya dia justru malah jatuh lebih dalam tertimpa godaan-godaan tersebut.Dengan jalan menghindar saja, kita tidak akan menang. Tetapi dengan sabar dan rendah hati yang sesungguhnya kita akan menguasai semua musuh kita
4. Barangsiapa hanya lahirnya saja menyingkiri kejahatan, tetapi tidak memberantasnya sampai keakar-akarnya, maka dia hanya sedikit mencapai kemajuan, malahan godaan akan lebih cepat menyerangnya kembali dan dia akan merasa lebih menderita.Dengan perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran dan ketenangan hati, serta dengan pertolongan Allah, kita akan lebih mudah dapat mengalahkan musuh-musuh kita, daripada dengan kekerasan dan kebengisan terhadap diri kita sendiri.Hendaklah kita seringkali minta nasihat, bila kita diserang godaan-godaan dan janganlah kita bertindak keras terhadap mereka yang sedang mengalami percobaan, tetapi hiburlah mereka itu seperti kita sendiri ingin diperlakukan oleh orang lain
5. Pangkal segala kejahatan pada godaan itu terletak pada ketidak-tenteraman batin kita dan pada kurang kepercayaan kita akan Tuhan.Sebab ibarat sebuah kapal yang tak berkemudi terombang-ambing oleh gelombang kesana-kemari, demikian pulalah orang yang lemah dan kurang tenang, serta tidak sanggup meneruskan maksudnya, terjerat dalam pelbagai godaan.Api menguji besi dan godaan menguji orang yang saleh.Kita tidak mengetahu kekuatan kita, tetapi percobaan menunjukkan sampai dimanakah kesanggupan kita.Oleh karena itu kita harus waspada, lebih-lebih pada permulaan godaan. Sebab demikian musuh akan lebih mudah dikalahkan, bila ia sama sekali tidak kita perbolehkan memasuki pintu gerbang jiwa kita, tetapi segera kita usir ketika dia mengetuk pintu.Seorang pujangga pernah menulis sebagai berikut :
“Dari awal adakanlah perlawanan yang pesat.Sebab datangnya obat akan terlambat.Bila karena terlalu lengah,Penyakit telah menjadi payah “(Ovid. De Remed II,91)
Mula-mula di dalam hati kita memang hanya timbul sebuah pikiran biasa saja, kemudian dengan giat muncullah angan-angan kita, selanjutnya rasa lezat, lalu keinginan jahat, dan pada akhirnya persetujuan kita.Demikianlah lambat-laun musuh yang jahat itu akan menguasai jiwa kita seluruhnya, jika pada permulaan dia tidak segera kita lawan. Dan makin lama orangmelalaikan perlawanan, semakin lemahlah keadaan batinnya, sebaliknya semakin kuatlah kedudukan si musuh
6. Sementara orang menderita godaan paling hebat pada waktu permulaan bertobatnya kepada Tuhan, sedang orang lain pada akhir hidupnya. Orang lain lagi selama hidupnya seakan-akan selalu mengalami penderitaan digoda dan dicoba.Tetapi ada juga orang yang hanya mengalami percobaan yang ringan. Itu semua sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan. Sebab Tuhan lah yang menimbang-nimbang kekuatan dan jasa masing-masing orang dan mengatur semuanya, untuk kebahagiaan orang-orang yang dipilihNya
7. Karena itu tak usah kita putus asa, bila kita mendapat cobaan; tetapi hendaklah kita lebih giat berdoa kehadirat Tuhan, agar Tuhan sudi membantu kita dalam segala cobaan. sebab menurut kata-kata St Paulus : “Dengan adanya godaan Ia juga akan memberi jalan untuk keluar” (1 Kor 10 : 13), hingga kita tetap dapat berdiri.Hendaklah kita merendahkan diri kita di bawah pimpinan Tuhan, bila kita menderita godaan dan percobaan : sebab Tuhan akan menolong mereka yang rendah hati dan memuliakannya
8. Dalam godaan dan cobaan orang diuji sampai dimana ia telah mencapai kemajuan, karena itu ia mendapat lebih banyak anugerah dan tampak lebih terang kebajikannya.Bukanlah hal yang luar biasa, bila seorang tinggal saleh dan bernyala-nyala kerajinannya selama ia tidak mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi apabila didalam waktu percobaan ia tetap tinggal sabar, maka sungguh ada harapan baginya, bahwa ia akan mengalami pertumbuhan rohani yang subur.Sementara orang terhindar dari godaan-godaan yang besar, tetapi seringkali mereka itu mengalami kekalahan dalam perkara yang kecil-kecil dalam hidupnya sehari-hari. Hal itu maksudnya agar dalam menghadapi hal-hal yang kecil itu mereka tetap rendah hati dan dalam menghadapi soal yang besar-besar mereka sekali-kali tidak akan percaya pada kekuatan diri sendiri, sebab dalam hal yang kecil-kecil saja telah terbukti, bahwa mereka mengalami kekalahan

I.14. HAL MENGHINDARI PENILAIAN YANG KURANG BIJAKSANA

1. Arahkanlah pandanganmu kepada dirimu sendiri dan janganlah menjatuhkan penilaian atas perbuatan-perbuatan orang lain. Menilai perbuatan orang lain adalah pekerjaan tak berguna, sebab seringkali kita telah salah kira dan mudah berdosa. sebaliknya menilai dan mawas diri itulah perbuatan yang sangat lebih berfaedah.Seringkali kita menilai suatu perkara sesuai dengan kepentingan diri kita sendiri, sebab ukuran-ukuran yang adil sering kita lalaikan karena kesayangan akan diri kita sendiri.Seandainya Tuhan yang selalu menjadi satu-satunya tujuan dan keinginan kita, niscaya tidak mudah kita akan merasa tersinggung oleh perlawanan batin kita
2. Tetapi seringkali di dalam hati kita tersembunyi, atau dari luar masuk barang suatu yang juga menarik keinginan kita.Sebab seringkali banyak orang yang mencari dirinya sendiri dalam pekerjaannya, meskipun tanpa diketahuinya.Juga nampak pula, bahwa mereka itu berada dalam keadaan tenteram dan aman, selama segala sesuatu berjalan menurut dan keinginan mereka.Tetapi begitu sesuatu berlangsung tidak sesuai dengan kehendak mereka, maka pikirannya lalu menjadi kacau dan hatinya sedih.Perselisihan pendapat dan perbedaan paham sudah sering merenggangkan hubungan antara sahabat dan tetangga, anatar para saudara, orang-orang saleh dan para biarawan
3. Menanggalkan kebiasaan lama itu memang sulit; dan tak seorangpun dengan suka hati meninggalkan pendapatnya sendiri.Apabila kita suka bersandar atas pikiran dan perhitungan kita sendiri daripada tunduk kepada kekuasaan Jesus Kristus, maka kemajuan kita di bidang kebijaksanaan rohani akan hanya berjalan lamban, mungkin malah tidak akan ada kemajuan sama sekali.Sebab Tuhan menghendaki supaya kita tanpa syarat menyerahkan diri kepadaNya, dan agar kita karena cintakasih yang menyala-nyala dapat mengatasi pertimbangan akal budi

I.15. HAL PERBUATAN-PERBUATAN CINTAKASIH

1. Kita tidak boleh menjalankan suatu hal yang jahat, meskipun untuk memperoleh barang sesuatu, atau demi cintakasih akan seseorang. Tetapi untuk menolong orang yang membutuhkan, kadang-kadang boleh kita tunda perbuatan yang baik, atau kita ganti dengan yang lebih baik.Sebab dengan demikian pekerjaan yang baik tadi tidak ditiadakan, tetapi dirubah menjadi lebih baik.Tanpa cintakasih suatu pekerjaan lahir tidak ada gunanya. Sebaliknya sesuatu yang dilakukan berdasarkan cintakasih, bagaimanapun kecil dan kurang berartinya usaha tersebut, akan ternyata besar faedahnya, sebab Tuhan lebih menilai keadaan batin orang yang melakukan suatu pekerjaan, daripada besarnya pekerjaan yang dilakukan.
2. Orang yang besar cintakasihnya, itulah yang berbuat banyak.Orang yang berbuat banyak, ialah orang yang berbuat baik.Sedang orang yang berbuat baik itu, ialah orang yang lebih mengabdi kepada kepentingan masyarakat daripada kepada kemauan sendiri.Suatu perbuatan nampaknya sering seperti penuh cintakasih, padahal sebenarnya semata-mata bersifat kenikmatan daging saja. Sebab memang jarang ada orang yang bebas daripada kecenderungan kodrati, kemauan sendiri, dari harapan atas balas jasa atau ganjaran dan dari nafsu memperoleh keuntungan.
3. Barangsiapa mempunyai cintakasih yang sebenarnya dan sempurna, maka dalam segala hal ia tidak akan mencari dirinya sendiri. Harapannya tidak lain, kecuali agar Tuhan di mana-mana dan dalam segala hal dimuliakan. Ia tidak iri hati terhadap siapapun juga, karena ia tidak mencari kepuasan dirinya sendiri.Pun tidak dicarinya kesenangan pada diri sendiri, tetapi yang diinginkannya ialah kebahagian di dalam Tuhan di atas segala benda yang fana ini.Tak seorang manusiapun dianggapnya sebagai pangkal suatu kebaikan, tetapi semuanya dikembalikan kepada Tuhan, yang merupakan pangkal segala-galanya dan di dalam Tuhan itulah semua yang suci akhirnya menikmati kebahagiaan kekal.Oh, seandainya orang memiliki sepercik cinta sejati saja, tentu akan insyaflah ia, bahwa segala duniawi ini hampa dan sia-sia belaka

I.16. SABAR TERHADAP KEKURANGAN ORANG LAIN

1. Bila kita tidak dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada kita sendiri atau pada orang lain, kita wajib bersabar, sampai Tuhan memutuskan lain.Hendaklah kita ingat, bahwa barangkali lebih baik demikian, untuk mencoba dan melatih kesabaran kita. Sebab tanpa percobaan-percobaan serupa itu, maka jasa-jasa kita tidak seberapa artinya.Tetapi dalam kesukaran semacam itu, hendaklah kita dengan semangat berdoa kepada Allah, supaya Tuhan berkenan memberi bantuan kepada kita untuk menerima kesukaran itu dengan hati rela.
2. Bila telah satu atau dua kali kita memperingatkan orang dan ternyata bahwa ia tidak mengacuhkannya, baiklah kita jangan bertengkar dengan orang itu. Kita serahkan saja hal itu kepada Allah, mudah-mudahan terjadilah kehendakNya dan diluhurkanlah namaNya oleh hamba-hambaNya.Marilah kita berusaha supaya kita tetap sabar dalam menghadapi kekurangan dan kelemahan orang lain; sebab orang-orang lain harus pula menderita karena kekurangan-kekurangan kita yang banyak jumlahnya.Apabila kita tidak mampu merubah diri kita sesuai dengan kehendak kita sendiri, bagaimana kita akan dapat menginginkan supaya orang lain merubah sifatnya seperti yang kita kehendaki?Kita menginginkan supaya orang-orang lain sempurna, tetapi kita sendiri tidak bersedia membuang kekurangan-kekurangan kita.
3. Kita mengharapkan supaya orang lain ditegur dengan keras, tetapi kita sendiri tidak mau menerima peringatan.Kita berkeberatan bila orang lain diberi keleluasaan, tetapi kita sendiri ingin agar apa saja yang kita kehendaki diluluskan.Kita menghendaki supaya orang lain dikendalikan dengan pelbagai peraturan, tetapi kita sendiri tidak mau dibatas-batasi dengan peraturan-peraturan.Demikian teranglah, betapa jarangnya kita menggunakan ukuran yang sama terhadap diri kita sendiri dan terhadap diri orang lain.Seandainya semua orang itu sempurna hidupnya, penderitaan apakah kiranya yang harus kita alami dari orang lain untuk Tuhan?Tetapi memang sudah menjadi kodrat Illahi, bahwa kita harus belajar yang satu memikul bebas yang lain (Gal. 6 : 2). Sebab tak seorangpun tanpa kekurangan, tak seorangpun tanpa beban, tak seorangpun mampu mencukupi kebutuhannya sendiri dan tak seorangpun mampu menyelesaikan kesulitan-kesulitannya sendiri.Oleh sebab itu kita wajib bantu-membantu, saling menghibur dan tolong menolong, saling memberi nasehat dan saling memberi penerangan.Justru dalam menghadapi keadaan untung malang, maka tampaklah betapa besar kekuatan orang. Sebab keadaan itu tidak membuat orang menjadi lemah, tetapi akan menunjukkan kekuatan orang yang sebenarnya

I.17. HAL HIDUP MEMBIARA

1. Sungguh sangat penting, bahwa dalam banyak hal kita harus belajar mengalah, apabila kita ingin hidup rukun dan damai dengan orang lain.Sungguh tidak kecil artinya hidup di dalam biara atau di dalam persekutuan bersama orang lain, tanpa keluh kesah, rukun dan damai serta setia sampai mati.Sungguh bahagialah orang yang telah hidup di kalangan itu dengan baik dan tetap bahagia sampai saat terakhir.Apabila kita ingin tetap berdiri dan maju, sebaiknya kita selalu ingat, bahwa di dunia ini kita adalah sebagai orang buangan dan perantau. Kita harus menjadi orang bodoh sebab Kristus (1 Kor. 4 : 10) bila kita ingin hidup membiara.
2. Pakaian biara dan pangkas rambut tonsura hanya sedikit gunanya. Tetapi memperbaiki kelakuan dan mengendalikan hawa nafsu dengan sempurna itulah membuat kita menjadi orang pertapa yang sesungguhnya.Barangsiapa ingin mencari sesuatu di luar Tuhan atau mencari lain daripada kebahagian jiwanya sendiri, niscaya ia akan hanya menemukan kesukaran dan kesusahan belaka.Juga tak akan lama ia merasakan hidup puas, jika ia tidak berusaha menjadi yang paling hina dan paling rendah di antara semua orang.
3. Kita hidup dengan tugas untuk mengabdi, bukan untuk memerintah. Baiklah kita ketahui, bahwa kita dipanggil untuk bekerja dan menderita sengsara, bukan untuk menganggur dan ngobrol-ngobrol.Di sinilah orang diuji laksana emas di dalam perapian (Kebj 3 : 6).Di sini orang tak akan dapat bertahan, kecuali dia dengan segenap hatinya mau merendahkan diri karena Tuhan.

I.18. HAL TELADAN PARA BAPA KUDUS

1. Baiklah kita memandang teladan para bapa kudus yang menyinarkan kesempurnaan dan semangat berjuang yang sebenarnya. Demikianlah kita akan melihat betapa kecil, bahkan hampir tak ada artinya sama sekali semua yang kita kerjakan.Ah, apakah arti hidup kita ini bila dibandingkan dengan hidup mereka?Orang-orang suci dan sahabat-sahabat Kristus itu telah mengabdi Tuhan dalam kelaparan dan dahaga, dalam kedinginan dan kekurangan pakaian, dalam bekerja keras dan kelelahan, dalam puasa dan kurang tidur, dalam doa dan renungan, dalam pengejaran dan berbagai hinaan.
2. Ah, betapa berat dan banyak percobaan yang telah diderita oleh para Rasul, para martir, para saksi iman, para perawan dan lain orang yang ingin mengikuti jejak Kristus. Mereka telah membenci hidup mereka di dunia sini untuk mendapatkan hidup yang kekal (Yoh. 12 : 25).Ah, betapa kerasnya para bapa kudus telah hidup di padang belantara!Betapa lamanya dan beratnya godaan-godaan yang telah mereka derita. Seringkali mereka diganggu musuh-musuh mereka. Betapa banyak dan tekunnya mereka memanjatkan doa ke hadapan hadirat Tuhan.Mereka menjalankan puasa sangat keras dan sangat rajin berusaha menyempurnakan hidup rohani mereka.Mereka tidak lupa dengan sekuat tenaga berusaha menundukkan hawa nafsu mereka. Dengan tulus ikhlas segala-galanya mereka tujukan kepada Tuhan.Pada siang hari mereka bekerja keras dan pada waktu malam mereka berdoa sampai lama, meskipun pada siang hari selama bekerja mereka tidak lupa berdoa dalam hati.
3. Segenap waktu mereka pergunakan sebaik-baiknya. Waktu-waktu yang mereka sediakan untuk bergaul dengan Tuhan mereka rasakan terlalu pendek. Pergaulan dengan Tuhan sangat menarik bagi mereka dan sangat mereka pentingkan, sehingga mereka sering lupa akan makan dan minum.Mereka telah meninggalkan kekayaan, pangkat, kehormatan, para sahabat dan handai taulan. Mereka sedikitpun tak ingin akan barang duniawi. Hal-hal yang diperlukan badan untuk hidup, hampir-hampir tidak mereka perdulikan. Memenuhi kebutuhan badan, meskipun hal itu mutlak perlu, mereka pandang sebagai rintangan.Mereka memang miskin akan harta benda dunia, namun mereka kaya sekali akan rahmat Tuhan dan keutamaan.Dilihat dari luar mereka nampaknya menderita kekurangan, tetapi dari dalam para bapa itu merasa segar terhibur karena rahmat dan bantuan Tuhan.
4. Mereka memang terasing di dunia ini, tetapi sungguh erat hubungan mereka dengan Allah dan sahabat-sahabat yang baik dan setia.Mereka memandang diri mereka sendiri hina, dan dalam pandangan dunia mereka itu rendah, tetapi di mata Tuhan mereka itu tinggi derajatnya dan terkasih.Dengan rendah hati yang sungguh-sungguh mereka tetap berdiri dengan ketaatan yang sederhana, lagi pula dengan cinta kasih dan kesabaran mereka hidup sehari-hari. Itulah yang menyebabkan mereka memperoleh kemajuan rohani setiap hari dan banyak rahmat dari Tuhan.Mereka merupakan teladan bagi semua orang dan hendaknya kita terdorong lebih kuat oleh teladan itu, untuk maju dalam hidup kerohanian, daripada mencontoh teladan orang yang lemah.
5. Ah, betapa rajinnya para biarawan pada waktu permulaan biara mereka dibangun.Betapa tekun doa-doa mereka! Mereka berlomba-lomba dalam olah keutamaan. Mereka sangat taat dan mengindahkan peraturan-peraturan yang sangat keras. Dengan hormat, rendah hati dan taat mereka semua tunduk terhadap pimpinan atasan mereka.Sampai sekarang masih terbukti, bahwa hidup mereka itu benar-benar suci dan sempurna, yang dengan berjuang penuh keberanian telah menginjak-injak dunia.Tetapi jaman sekarang orang sudah dipandang besar, jika dia tidak melanggar peraturan dan apabila dia sudah berusaha menjalankan tugas yang diterimanya dengan sabar.
6. Ah, betapa kita sudah menjadi lemah dan lalai dalam jabatan kita, sehingga kita cepat menyimpang dari semangat jiwa kita semula. Lagi pula kita telah menyusahkan hidup kita sendiri, karena kelemahan dan kemalasan kita.Semoga kita selalu tetap rajin mengejar olah keutamaan, setelah kita melihat demikian banyak teladan para suci dan orang saleh

I.19. HAL LATIHAN-LATIHAN BIARAWAN YANG BAIK

1. Kehidupan seorang biarawan yang baik harus dihiasi dengan segala macam keutamaan, agar keadaan batin mereka sesuai dengan apa yang kelihatan dari luar.Malah sewajarnyalah, bahwa keadaan batin kita harus lebih baik daripada yang kelihatan di luar. Sebab yang melihat kita sampai ke dalam adalah Tuhan sendiri, yang harus kita hormati lebih daripada segala-galanya. Dalam pandangan Tuhan hendaknya kita murni bagaikan malaikat.Hendaklah setiap hari kita membaharui niat kita yang baik dan tak henti-hentinya mendorong diri kita, untuk menempa semangat kita, seolah-olah kita baru saja memasuki hidup yang kita pilih sekarang ini, sambil memanjatkan doa: “Tuhan Allahku, tolonglah aku, agar aku senantiasa mempunyai niat yang baik dan dapat mengabdi Dikau dengan sebaik-baiknya. Bantulah aku agar hari ini juga aku dapat mulai dengan baik, sebab apa yang sampai sekarang telah kukerjakan itu sebenarnya belum seberapa artinya”.
2. Kemajuan kita tergantung pada niat kita. Dan siapa ingin maju dengan baik, memerlukan kerajinan yang tidak sedikit pula.Sedang orang yang mempunyai niat yang kuat masih juga seringkali menjalankan kesalahan-kesalahan, apalagi orang yang kurang teguh niatnya yang kurang kuat kemauannya.Sebab seringkali niat kita kita batalkan, dan suatu kelalaian dalam latihan-latihan, bagaimanapun kecilnya, jarang tidak menimbulkan kerugian.Orang yang takwa lebih menyandarkan niatnya atas rahmat Tuhan daripada atas kebijaksanaan sendiri. Dalam segala perbuatannya orang tadi menaruh kepercayaan dan harapan kepada Tuhan. Sebab manusia itu merancang, tetapi Tuhanlah yang menentukan dan manusia tidaklah menentukan jalannya sendiri (Yer. 10 : 23)
3. Bilamana kita kadang-kadang meninggalkan latihan demi Tuhan atau untuk membantu sesama manusia, maka nantinya hal ini masih mudah dikejar kembali.Tetapi jika mengabaikan sesuatu karena rasa segan atau karena tak perduli, maka besarlah kesalahan kita dan kita akan menderita kerugian.Maka hendaklah kita senantiasa mengerahkan segenap tenaga kita; tetapi sekalipun demikian, kita akan masih juga melakukan banyak kesalahan.Hendaknya kita senantiasa berniat untuk berbuat sesuatu yang tertentu, lebih-lebih memperhatikan hal-hal yang merupakan rintangan bagi kita.Hendaklah kita menyelidiki dan mengatur perbuatan kita baik yang lahir maupun yang batin, karena kedua-duanya berguna bagi kemajuan kita.
4. Bila kita tidak mungkin dapat berdoa terus menerus sepanjang hari, hendaklah setidak-tidaknya kadang-kadang kita melakukannya. Dan sekurang-kurangnya sekali sehari, yaitu pada waktu pagi ataupun pada malam hari.Pada pagi hari hendaknya kita membangun niat dan pada malam hari kita selidiki bagaimana kelakuan kita pada hari yang telah lampau, baik dalam kata-kata, dalam pikiran, maupun dalam pekerjaan. Sebab dalam hal-hal itulah mungkin sekali kita sudah berbuat kesalahan-kesalahan, baik terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama kita.Baiklah kita persenjatai diri kita bagaikan seorang satria terhadap tipu muslihat iblis yang jahat.Kendalikanlah keserakahan kita, agar kita lebih mudah dapat menundukkan hawa nafsu kita yang cenderung pada kenikmatan daging.Janganlah kita suka menganggur, tanpa kerja sama sekali. Tetapi baiklah kita usahakan, agar kita mengerjakan sesuatu, misalnya membaca, menulis, berdoa atau merenung, ataupun berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain.Latihan-latihan yang ada sangkut pautnya dengan gerakan badan, hendaknya dilakukan secara sederhana dan dalam hal itu janganlah setiap orang dipandang sama kekuatannya.
5. Segala sesuatu yang tidak bersifat umum hendaknya jangan dilakukan di muka umum, karena latihan yang sifatnya istimewa lebih baik dilakukan sendirian, secara perseorangan.Sungguh tidak baiklah kiranya jika kita segan dan malas menjalankan latihan-latihan umum bersama, tetapi lebih senang melakukan latihan-latihan sendirian.Kita selesaikan lebih dahulu tugas kewajiban yang diletakkan di atas pundak kita dengan teliti dan sempurna, sesudah itu, jika masih ada waktu terluang barulah kita boleh mengundurkan diri dalam kesunyian dan melakukan sesuatu, yang sesuai dengan cinta-bakti kita.Tidak semua macam latihan cocok buat setiap orang. Masing-masing orang mempunyai kecocokan latihan sendiri-sendiri. Demikian pula halnya tidak semua latihan cocok untuk dilakukan setiap hari. Ada latihan yang sebaiknya dijalankan pada hari-hari besar, dan ada latihan yang cocok untuk diselenggarakan pada hari-hari biasa. Maka baiklah latihan-latihan itu disesuaikan dengan pergantian waktu dan keadaan.Pada waktu mengalami godaan orang membutuhkan latihan lain daripada waktu tenang dan tenteram. Dalam waktu menderita kesusahan dan keresahan hati kita sebaiknya menjalankan renungan-renungan. Sedang pada waktu berada dalam keadaan riang gembira kita membutuhkan latihan lain lagi.
6. Pada hari-hari raya yang terpenting hendaklah kita membaharui semangat kita untuk dengan rajin menjalankan latihan-latihan dan lebih banyak minta bantuan kepada para suci. Dalam masa antara hari raya yang satu dengan hari raya yang lain,sebaiknya kita pikirkan, bahwa kita seakan-akan hendak meninggalkan dunia ini, untuk merayakan pesta yang abadi.Oleh sebab itu, bila kita menghadapi hari-hari yang suci itu, hendaklah kita persiapkan diri kita sebaik-baiknya serta memberi teladan lebih baik lagi dalam pergaulan kita, lagi pula lebih teliti dan hati-hati menjalankan peraturan-peraturan, sehingga seakan-akan tak lama lagi kita akan menerima ganjaran dari Tuhan bagi pekerjaan kita.
7. Jika saat pemberian ganjaran itu belum juga tiba, baiklah hal itu kita pandang sebagai pertanda, bahwa kita belum siap serta belum patut memperoleh kemuliaan yang akan diberikan kepada kita (Rom. 8 : 18) pada saat yang telah ditentukan. Maka itu hendaknya kita lebih mempersiapkan diri lagi untuk menghadapi kematian kita.Santo Lukas dalam kitab Injilnya telah menulis: Bahagia hamba yang terdapat tidak tidur, waktu tuannya datang. Sungguh kataku kepadamu, ia akan ditetapkan untuk mengurus segala miliknya (Luk. 12 : 37)

I.20. HAL CINTA AKAN KESUNYIAN DAN KETENANGAN

1. Hendaklah kita mencari waktu yang baik, untuk meneliti keadaan diri kita sendiri dan seringkali merenungkan kebajikan Tuhan.Baiklah kita jauhkan segalanya yang hanya memenuhi keinginan kita untuk mengetahui saja. Tetapi hendaknya kita pilih bacaan-bacaan yang lebih menggugah rasa menyesal atas kesalahan-kesalahan kita dan bukan sekedar pengisi waktu belaka.Bila kita mau menghindari percakapan-percakapan yang tak perlu, berjalan kian kemari tanpa berbuat sesuatu dan tidak mencari berita dan kabar angin saja, tentu kita akan menemukan banyak dan cukup waktu untuk merenungkan hal-hal yang baik dan berfaedah.Orang-orang suci yang terkemuka sedapat mungkin menghindari pergaulan dengan orang banyak. Mereka lebih suka mengabdi Tuhan di tempat sunyi.
2. Seorang penulis pernah berkata: “Setiap kali sesudah bergaul dengan orang banyak, saya selalu merasa menjadi kurang kepribadian saya” (Seneca Ep. 7). Hal itu juga kita alami sendiri, yaitu setiap kali setelah kita beromong-omong lama.Sungguh lebih mudah diam sama sekali, daripada menjaga supaya jangan sampai berbicara kelewat batas.Lebih mudah tetap tinggal di rumah saja, daripada hati-hati menjaga diri di luar rumah.Oleh sebab itu barangsiapa mau memperoleh hidup kebatinan dan kerohanian, dia harus bersama-sama Yesus mengundurkan diri dari pergaulan dengan orang banyak.Hanya dia yang suka hidup dalam tempat sunyi dapat aman tampil di muka orang banyak.Hanya dia yang suka berdiam diri, dapat berbicara dengan lancar dan bebas.Hanya dia yang suka mengabdi, akan dapat menjadi pembesar yang baik.Tak seorangpun dapat memegang pimpinan dengan baik, kecuali dia yang telah belajar dan biasa tunduk kepada pimpinan.
3. Tak seorangpun dapat merasa tenteram dan sungguh gembira, kecuali yang berhati bersih.Namun ketenteraman hati para suci itu penuh rasa hormat dan kasih akan Tuhan. Mereka tetap waspada dan rendah hati, meskipun mereka itu sudah tinggi tingkat kesuciannya dan sangat dilimpahi rahmat Allah.Dalam pada itu ketenteraman orang-orang jahat itu dasarnya hati sombong dan watak congkak yang akhirnya tentu akan mengecewakan hati.Selama hidup di dunia ini janganlah kita mengharapkan keamanan dan ketenteraman, meskipun nampaknya kita adalah biarawan yang baik ataupun orang pertapa yang suci.
4. Seringkali terjadi, bahwa orang yang dalam pandangan umum sangat baik, sesungguhnya berada dalam keadaan bahaya besar, karena ia terlalu percaya kepada dirinya sendiri.Oleh sebab itu pada umumnya lebih baik, bahwa orang itu tidak terhindar sama sekali dari godaan-godaan, agar dengan demikian ia tidak merasa terlalu aman dan karenanya mungkin lalu menjadi congkak serta akan mencari hiburan di luar.Ah, alangkah murninya suara hati kita, jika kita tak pernah mencari kenikmatan-kenikmatan yang fana dan tak usah berurusan dengan dunia ini.Ah, alangkah damai dan tenteram hati kita, jika kita dapat menjauhkan kesusahan hati yang sia-sia, hingga hanya memikirkan hal-hal yang ada hubungannya dengan Tuhan serta menaruh kepercayaan kepadanya.
5. Tak seorangpun patut memperoleh hiburan dari surga, kecuali ia yang tekun membiasakan diri menyesali kesalahan-kesalahannya.Jika kita sungguh-sungguh sampai ke dalam hati ingin bertobat, baiklah kita masuk ke dalam kamar kita ; kita tinggalkan segala keramaian dunia, seperti telah tertulis : Bertobatlah di atas tempat tidurmu (Maz. 4 : 5).Di dalam kamar kita akan menemukan apa yang sering akan kita lepaskan di luar.Jika kita setia mengundurkan diri di dalam kamar, maka kita akan sayang kepadanya, sedang jika kita sering ke luar meninggalkannya, maka kamar kita itu akan membosankan kita.Jika kita pada awal hidup membiara setia mendiami dan memelihara kamar kita, niscaya kamar kita itu akan merupakan sahabat kita yang akrab dan penghibur hati yang sangat menyenangkan.
6. Di tempat yang sunyi dan tenang jiwa yang suci akan mencapai kemajuan dan belajar memahami rahasia-rahasia yang terpendam di dalam kitab suci.Di situ ia akan dapat mencucurkan banyak air mata untuk membersihkan dan memurnikan dirinya setiap malam, agar hubungannya dengan Tuhan, Penciptanya, bertambah erat, selaras dengan jiwa suci itu menjauhkan diri dari keramaian dunia.Jadi barangsiapa menjauhkan diri dari pada kenalan dan sahabatnya, maka Tuhan dan para malaikatNya yang kudus akan mendekatinya.Lebih baik mengasingkan diri tetapi tidak lupa akan keselamatan jiwanya, daripada berbuat mukjijat-mukjijat tetapi tanpa memperdulikan keadaan jiwanya.Sungguh terpujilah seorang biarawan yang jarang pergi ke luar, jarang menampakkan diri di muka orang banyak, serta tidak ingin terkenal di kalangan masyarakat.
7. Apa gunanya melihat sesuatu yang tidak boleh kita miliki? Dunia beserta kenikmatannya akan hilang lenyap (1 Yoh. 2 : 17).Keinginan hawa nafsu kita sering mendorong kita berjalan-jalan ke luar. Tetapi apa pula yang kita bawa pulang kembali? Tak lain kecuali hati resah dan pikiran bingung.Pergi ke luar dengan hati gembira dan muka berseri-seri, tetapi pulang kembali dengan hati susah dan muram. Senang-senang bergembira sampai larut malam, pagi-pagi bangun dengan pikiran kalut.Demikianlah segala kesenangan daging itu mula-mula rasanya nikmat, tetapi akhirnya terasa pahit dan menyedihkan.Apakah kiranya yang dapat kita lihat di tempat lain, yang sesungguhnya tidak dapat kita lihat di sini ? Cobalah kita pandang langit dan bumi beserta dengan segala unsur-unsurnya ! Bukankah semuanya itu berasal daripadanya ?
8. Pernahkah kita melihat sesuatu yang dapat bertahan lama di bawah matahari ? Mungkin kita mengira dapat memperoleh sesuatu yang dapat memberi kepuasan, tetapi hal itu tidaklah akan terjadi.Seandainya semesta alam ini terbuka bagi pandangan kita, bukankah itu hanya merupakan pandangan hampa belaka ?Arahkanlah pandangan kita kepada Tuhan yang maha tinggi dan marilah kita berdoa agar diampunilah semua dosa dan kelalaian kita.Kita serahkan segala benda yang hampa kepada dunia ini dan kita perhatikan yang dikehendaki Tuhan terhadap kita.Tutuplah pintu kamar kita dan berdoalah agar sahabat kita, Yesus Kristus, yang tercinta, berkenan datang mengunjungi kita. Hendaklah kita tetap tinggal bersama Dia di dalam kamar kita, karena di tempat lain kita tak akan merasakan ketenteraman yang begitu besar.Andaikata kita waktu yang lalu tidak pergi ke luar dan tidak mendengar kabar berita duniawi, niscaya akan lebih mudah kita menyimpan ketenteraman yang baik itu.Sejak kita mulai suka mendengar bermacam-macam kabar, pada saat itulah hati kita mulai goncang.

I.21. HAL HATI REMUK REDAM

1. Jika kita ingin sedikit maju dalam hal kerohanian, hendaklah kita tetap takut akan Allah dan janganlah kita terlalu bebas; melainkan hendaklah kita mengendalikan keinginan kita dan janganlah kita terlalu girang secara kurang wajar.Jika kita mempunyai hati yang remuk redam, maka kita akan mendapat bakti yang sebenarnya.Hati yang hancur mendapatkan banyak barang yang berharga yang biasanya hilang pula karena hidup yang kacau.Maka sungguh mengherankan, bahwa masih ada orang yang selama hidup di dunia ini masih juga dapat bergembira sepenuhnya, kalau kita ingat, bahwa kita masih hidup dalam pembuangan dan bahwa banyak bahaya yang mengancam jiwa kita.
2. Karena kita lalai dalam hati dan tidak ingat akan kekurangan-kekurangan kita, maka kita tidak merasakan kesusahan jiwa kita. Tanpa pikir kita sering tertawa, justru pada saat yang kita harus menangis.Tak ada kebebasan yang sungguh-sungguh, tak ada pula kegembiraan yang sebenar-benarnya, kecuali jika kita cinta akan Allah berdasarkan hati yang murni.Bahagialah orang yang dapat melepaskan dirinya daripada segala sesuatu yang dapat mencemarkan dan memberatkan suara hatinya.Hendaklah kita berjuang bagaikan seorang satria; kebiasaan yang satu dapat dikalahkan oleh kebiasaan yang lain.
3. Apabila kita dapat membiarkan orang lain dengan urusannya sendiri, maka orang lainpun tidak akan mencampuri urusan kita.Janganlah kita suka ikut mengurusi perkara orang lain, demikian pula janganlah kita merisaukan urusan para pembesar kita.Arahkanlah perhatian kita terlebih dahulu kepada diri kita sendiri dan bangkitkan semangat kita sendiri lebih dahulu daripada semangat mereka yang kita cintai.Jikalau kita tidak disukai orang, janganlah hendaknya bersusah hati karenanya. Sebaliknya kita harus merasa menyesal, bahwa kita tidak berkelakuan baik, selaras dengan kedudukan kita sebagai hamba Tuhan dan seorang biarawan yang saleh.Seringkali lebih berguna dan lebih aman jika kita selama hidup di dunia ini tidak memperoleh banyak hiburan, lebih-lebih hiburan jasmani.Bahwa sebaliknya seringkali kita tidak atau jarang memperoleh hiburan Ilahi, maka hal itu adalah karena kesalahan kita sendiri. Sebab kita tidak mencari kesalahan-kesalahan kita sendiri dan menyesalinya, tetapi sebaliknya kita malah tidak sama sekali menolak hiburan dari luar.
4. Baiklah kita mengakui, bahwa kita tidak pantas menerima hiburan Tuhan, sebaliknya bahwa patutnya kita menerima bermacam-macam percobaan.Jikalau kita sungguh-sungguh mempunyai hati yang remuk redam, maka dunia seluruhnya hanya merupakan kepahitan belaka. Orang yang baik hati akan menginsyafi, bahwa ada cukup alasan untuk bersedih dan mencucurkan air mata.Sebab baik pada waktu orang tersebut mawas diri sendiri, maupun pada saat dia memperhatikan orang lain, tentulah dia akan mengetahui, bahwa tak seorangpun hidup di dunia ini tanpa penderitaan. Makin dalam orang tadi mawas dirinya sendiri, makin sedihlah rasanya.Adapun yang menimbulkan rasa sedih dan menyesal yang selayaknya itu ialah dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan kita. Justru dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan kita itulah yang menjerat kita, sehingga kita tidak mampu lagi memikirkan hal-hal surgawi.
5. Jika kita lebih sering memikirkan ajal kita daripada berkhayal tentang umur panjang, niscaya kita akan lebih giat berusaha supaya dapat maju.Bilamana kita mau memikirkan lebih dalam hukuman-hukuman neraka atau api penyucian yang nantinya akan datang, maka saya percaya, bahwa kita dengan suka hati akan menerima segala kesukaran dan kesakitan serta tidak akan mundur jika menghadapi kekerasan.Tetapi karena pikiran-pikiran itu kurang meresap di dalam hati kita, dan karena kita masih suka dipuji dan disanjung-sanjung, maka kita tetap dingin dan lemah dalam hal kerohanian.
6. Biasanya kekurangan tenaga jiwa itulah yang menyebabkan badan kita yang malang ini mudah mengeluh.Oleh sebab itu marilah kita dengan segala rendah hati berdoa kehadirat Tuhan agar Tuhan memberi semangat dan rasa menyesal kepada kita, dan marilah kita bersama-sama sang nabi berseru: “Berilah saya, ya Tuhan, roti berdukacita dan basahilah saya dengan air mata” (Mzm. 80 : 6)

I.22. HAL PANDANGAN TENTANG PENDERITAAN MANUSIA

1. Di manapun kita berada dan kemanapun kita pergi, kita akan sengsara, jika tidak bertobat kepada Tuhan.Mengapa kita marah dalam hati bila sesuatu hal tidak berjalan sesuai dengan kehendak dan keinginan kita ?Tak seorangpun di dunia ini yang dapat mengharapkan akan selalu mencapai keinginannya: Saya tidak, engkaupun tidak.Tak seorangpun di dunia ini bebas dari gangguan ataupun kesusahan, sekalipun dia itu seorang raja atau seorang santo bapa.Maka siapakah yang boleh dikatakan beruntung ? Tentu dia yang mau menderita sengsara karena Allah.
2. Banyak orang yang tidak berfikir lagi pula lemah mengatakan: “Lihatlah, alangkah senang hidup orang itu; kaya, mulia, kuasa, pangkatnya tinggi”. Tetapi hendaklah kita perhatikan kekayaan surgawi, maka kita akan melihat, bahwa semua benda dunia itu tak ada harganya sama sekali. Benda-benda dunia itu tidak tetap, malahan merupakan rintangan besar, karena barangsiapa yang memilikinya selalu merasa takut dan khawatir.Kebahagiaan orang tidak terletak pada memiliki kekayaan yang melimpah-limpah; cukup seperlunya saja.Hidup di dunia ini sungguh penuh derita.Makin dalam perhatian kita terhadap hidup kerohanian, maka sadarlah kita akan pahitnya hidup ini, karena kita lalu lebih menginsyafi dan lebih merasakan jahatnya sifat manusia.Sebab makan, minum, berjaga, tidur, istirahat dan bekerja, serta harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya itu sungguh merupakan beban berat bagi seorang yang ingin bebas dari semuanya itu dan juga ingin bersih dari segala dosa.
3. Bagi orang yang sungguh-sungguh mengutamakan hidup kebatinan, maka kebutuhan-kebutuhan hidup badani di dunia ini benar-benar merupakan beban berat.Oleh karena itu sang nabi dengan sangat berdoa, apakah tidak mungkin dirinya dibebaskan dari semuanya itu dengan kata-kata: “Ya Tuhan, lepaskanlah saya daripada segala beban-beban saya” (Mzm 25 : 17).Tetapi celakalah mereka yang tidak insyaf akan kesengsaraannya! Lebih celaka lagi mereka, yang masih senang akan hidup yang terkutuk dan tidak kekal ini.Sebab sementara orang nampaknya sudah demikian lekat pada hidup ini, sehingga mereka (meskipun dengan susah payah atau hanya dengan jalan minta-minta saja mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka) sama sekali tidak mau mengindahkan kerajaan Allah, asal saja mereka dapat tinggal hidup di dunia ini.
4. Oh, benar-benar bodoh dan tak mempunyai kesetiaan di dalam hatinyalah orang, yang demikian lekat kepada barang-barang duniawi, sehingga ia hanya gemar akan kenikmatan daging saja.Sungguh kasihan orang semacam itu, yang akhirnya akan mengalami betapa remeh dan tak bernilai sama sekali barang-barang yang disayanginya itu.Sebaliknya orang-orang suci dan orang-orang saleh, para sahabat Kristus. Mereka tidak menghiraukan apa saja yang merupakan kenikmatan daging dan kemewahan duniawi, tetapi seluruh harapan dan kerinduan mereka arahkan kepada benda-benda yang kekal.Seluruh keinginan selalu mereka tujukan ke atas, ke barang-barang yang tetap dan tidak nampak, agar mereka tidak tertarik ke bawah karena cinta mereka terhadap apa yang kelihatan mata.Maka Saudaraku, semoga harapan untuk maju dalam kehidupan rohani jangan hilang daripadamu. Saudara masih ada waktu dan kesempatan.
5. Mengapa akan kita tunggu sampai lain waktu. Marilah kita bangkit dan mulai berbuat sekarang juga seraya berkata: Sekaranglah waktunya untuk bekerja, sekaranglah saatnya untuk berjuang, sekaranglah waktunya yang tepat bagi saya untuk memperbaiki hidup saya.Bila keadaan kita buruk dan baru menderita percobaan, maka saat-saat itulah yang justru merupakan kesempatan baik untuk memperoleh ganjaran.Kita harus melalui api dan air, sebelum kita memperoleh kekuatan yang segar.Jika kita tidak bersikap keras terhadap diri kita, tak mungkin kita akan dapat mengatasi kekurangan-kekurangan kita.Selama kita masih hidup dalam tubuh yang rapuh ini, selama itu kita tidak akan dapat bersih dari dosa dan tidak akan dapat bebas dari kesusahan dan kesengsaraan.Betapa ingin kita mencapai istirahat dan sama sekali lepas daripada segala kesusahan ini. Tetapi karena kita oleh dosa telah kehilangan keadaan murni bersih kita, maka kitapun telah kehilangan pula kebahagiaan yang sejati.Oleh sebab itu kita harus sabar dan menunggu rahmat Tuhan, hingga saatnya kesukaran ini telah berlalu, dan yang fana dalam hidup ini dihilangkan oleh yang Baka (2 Kor. 5.4).
6. Ah, sungguh lemahlah sifat kodrat manusia, yang selalu cenderung kepada kejahatan !Hari ini kita mengakukan dosa-dosa kita, besok kita sudah menjalankan dosa-dosa yang baru saja kita akukan itu.Pada waktu sekarang kita berniat,untuk berhati-hati dan waspada, tetapi satu jam kemudian saja kita sudah berbuat seakan-akan tidak pernah berniat baik sedikitpun juga.Maka banyaklah hal yang menyebabkan kita harus merendahkan diri kita atau akan sombong, karena sifat kita memang sangat lemah dan selalu goyah.Ah, dalam sekejap mata saja dapat hilang lenyap segala apa yang dengan susah payah telah kita peroleh atas pertolongan Tuhan.
7. Apakah kesudahan kita akhirnya nanti, apabila belum-belum kita sudah mulai patah semangat ?Celakalah kita, jika kita begitu suka beristirahat,seakan-akan kita sudah menikmati waktu damai dan aman, padahal sedikitpun belum ada tanda-tanda, bahwa pergaulan kita sudah berubah menjadi saleh.Ada baiknya kita mulai lagi dididik dari permulaan secara baik kearah hidup kesusilaan yang sungguh-sungguh. Barangkali masih ada harapan akan perbaikan di kemudian hari dan kemajuan yang lebih besar dalam hidup rohani.

I.23. HAL MERENUNGKAN KEMATIAN

1. Tak lama lagi akan tamatlah riwayat hidup kita di dunia ini; maka baiklah kita selidiki, bagaimana keadaan kita.Hari ini orang masih hidup, tetapi besok dia sudah tidak ada lagi !Padahal jika orang sudah lenyap dari muka pandangan umum, maka biasanya juga lekas lenyap pula dari ingatan orang banyak.Oh, alangkah bodoh dan kerasnya hati kita, yang hanya memikirkan keadaan sekarang saja dan tidak bersiap-siap menghadapi waktu yang akan datang.Dalam segala perbuatan hendaknya kita bersikap seakan-akan hari ini juga akan meninggal dunia.Jika kita mempunyai suara hati yang bersih, apakah kiranya besok pagi kita akan siap mati?“Besok” merupakan hari yang tidak tentu, dan bagaimanakah kita tahu, bahwa kita masih akan mengalami hari besok ?
2. Apakah gunanya mencapai umur panjang, jika kita tidak cukup memperbaiki hidup kita ?Ah, umur panjang tidak selalu membawa perbaikan, bahkan seringkali malahan menambah banyaknya kesalahan saja.Alangkah bahagia kita, seandainya kita dapat hidup baik sehari saja di dunia ini.Banyak orang menghitung-hitung tahun sesudah mereka bertobat, tetapi sering tidak terdapat banyak perbaikan dalam hidup mereka.Jika mati itu kita pandang menakut-nakuti, maka umur panjang mungkin lebih berbahaya.Bahagialah orang yang selalu ingat akan saat kematiannya, dan setiap hari mempersiapkan diri untuk menghadapi mati.Apakah kita sudah pernah melihat orang pada saat ia akan meninggal dunia ? Baiklah kita ingat, bahwa jalan yang sama itu akan kita lalui juga.
3. Waktu pagi-pagi, janganlah kita berani menentukan, bahwa kita akan mengalami waktu malam.Bila kita mencapai waktu malam, janganlah kita berani pula menentukan, bahwa kita masih akan mengalami waktu pagi.Kita harus selalu siap sedia dan hidup kita hendaknya demikian, hingga maut tidak menemui kita dalam keadaan tidak siap.Banyak orang meninggal sekonyong-sekonyong dan mendadak. Sebab pada waktu yang tidak disangka-sangka, Putera Manusia akan datang (Mat 14.42. Luk 12.40).Bilamana saat-saat terakhir itu telah tiba, maka pandangan kita terhadap waktu yang telah lewat tentu akan sangat berlainan sekali. Dan kita tentu akan sangat merasa menyesal, karena kita telah hidup sembrono dan tidak hati-hati.
4. Alangkah bijaksana dan bahagianya orang yang dalam hidupnya sekarang berhaluan, seperti harapannya pada waktu ia akan menemui ajalnya.Kita sungguh boleh mengharapkan ajal yang bahagia, bila kita sudah mengabaikan barang duniawi sama sekali mempuyai keinginan yang bernyala-nyala untuk maju dalam kebajikan, cinta akan peraturan biara, benar-benar bertapa dengan sekuat tenaga, taat dengan segala suka hati, menyangkal diri sendiri lagi pula menerima dengan sabar segala kesukaran demi cinta kasih akan Kristus.Selama kita dalam keadaan sehat, kita dapat berbuat banyak kebaikan, tetapi kita tidak tahu, apakah yang masih dapat kita lakukan, bila kita jatuh sakit.Tidak banyak orang yang menjadi lebih baik dalam hatinya karena menderita sakit. Demikian pula tidak banyak jumlahnya orang yang menjadi saleh karena sering berziarah ke tempat-tempat suci.
5. Janganlah kita banyak menaruh harapan kepada sahabat dan kaum keluarga kita dan janganlah menunda usaha kita untuk keselamatan jiwa kita. Sebab orang akan lebih cepat melupakan kita daripada yang kita duga.Lebih baik sekarang ini kita berjaga-jaga dan mengumpulkan pekerjaan baik (sedia payung sebelum hujan), untuk waktu yang akan datang, daripada mengharapkan bantuan orang lain.Bila sekarang kita tidak memperhatikan kepentingan kita, siapakah yang akan memperhatikan kita di kemudian hari ?Waktu sekarang sungguh sangat berharga. Sekaranglah saat yang bahagia; sekaranglah saat yang diperkenan Allah (2 Kor. 6.2).Tetapi alangkah sayangnya, bahwa waktu ini tidak kita pergunakan lebih baik, sedang mestinya saat ini adalah kesempatan untuk memperoleh harta yang kekal.Sekali datanglah saatnya, bahwa kita ingin benar mengalami satu hari, bahkan satu jam saja, untuk memperbaiki diri kita,dan kita tidak tahu, apakah kesempatan itu akan kita peroleh.
6. Lihatlah sahabatku, kita akan terlepas dari bahaya dan ketakutan yang besar, jika sekarang sudah selalu memperhatikan keadaan kita dan selalu ingat akan dipanggil Tuhan.Oleh Karena itu, baiklah kita berusaha hidup demikian rupa, hingga pada saat meninggal dunia kita lebih merasa gembira daripada merasa takut.Baiklah mulai sekarang kita belajar mati bagi dunia, supaya dengan demikian kita dapat hidup bersama Kristus.Siksalah badan kita dengan puasa dan matiraga, agar kita dapat teguh dalam harapan kita.
7. Hai orang dungu, mengapa kita mengira akan hidup lama, sedangkan kini kita tidak tentu akan satu hari saja!Berapa banyaknya orang yang tertipu dan sekonyong-konyong meninggal dunia ?Tidakkah kita sering mendengan orang berkata: Ia mati ditusuk pedang, ia mati tenggelam, ia jatuh dari atas dan patah lehernya; yang lain mati sedang makan dan yang lain lagi sedang bermain ? Itu mati terbakar, orang ini mati karena senjata, yang satu karena penyakit pes dan yang lain karena dibunuh orang. Demikianlah semua orang akhirnya mati dan hidup manusia berlalu sebagai bayangan.
8. Siapakah yang masih akan ingat kepada kita jika kita sudah mati ? Dan siapa yang akan berdoa untuk kita ?Maka, Saudara yang tercinta, marilah kita kerjakan sekarang apa yang dapat kita kerjakan. Sebab kita tidak tahu, kapan kita akan mati dan kita tidak tahu apa yang akan kita alami sesudah mati.Marilah kita kumpulkan harta yang tidak dapat binasa, selama kita masih mempunyai kesempatan. Janganlah kita memikirkan bermacam-macam hal, selain kebahagiaan kita, dan hendaklah kita hanya memikirkan hal-hal bertalian dengan Allah.Carilah sekarang sahabat-sahabat dengan menghormati orang-orang kudus dan menyontoh perbuatan mereka, agar kita bila telah meninggal dunia dapat diterima dalam kemah-kemah yang abadi (Luk. 16.9)
9. Hendaklah di dunia ini kita berhaluan seperti orang yang sedang bepergian dan sebagai orang asing, yang tak mempunyai sangkut paut dengan soal-soal duniawi.Bebaskanlah hati kita hendaknya dan kita arahkan kepada Tuhan, karena kita di sini tidak mempunyai tempat tinggal yang kekal (Ibr. 13.14).Panjatkanlah doa dan permohonan kita setiap hari disertai dengan cucuran air mata ke hadirat Tuhan, agar jiwa kita setelah meninggal dunia layak menerima anugerah Tuhan. Demikianlah hendaknya

I.24 HAL PENGADILAN TERAKHIR DAN HUKUMAN DOSA

1. Dalam segala hal hendaklah kita melihat akhirnya dan kita renungkan bagaimana kita nanti akan berdiri di muka Hakim yang Mahatinggi, yang tahu akan segala-galanya, yang tak dapat diberi suap dan yang tak akan menerima alasan-alasan yang tak sah. Tetapi yang akan menjatuhkan pengadilan yang seadil-adilnya (Is. 11.4).Ah, orang berdosa yang celaka ! Apakah jawabanmu kepada Tuhan yang mengetahui semua kejahatanmu, sedangkan kamu sudah gemetar, karena takut terhadap seorang manusia yang sedang marah-marah ?Mengapa kita tidak bersiap-siap menghadapi hari pengadilan tersebut, di mana kita tidak akan dapat dibela serta dibebaskan oleh orang lain, melainkan kita sendiri harus memikul tanggung jawab kita masing-masing ?Sekarang jerih payah kita masih dapat membawa hasil, waktu sekarang air mata kita masih diterima dan keluhan kita masih didengarkan; pada waktu ini kesusahan kita masih dapat merupakan pemulihan dan dapat membersihkan hati.
2. Orang yang mengalami penderitaan dari orang lain dan oleh karenanya lebih menyesal atas kesalahan orang lain daripada atas ketidak adilan yang diterimanya sendiri,maka orang itu di dunia ini boleh dikata sudah menderita siksaan api penyucian yang berat, tetapi bahagia baginya.Demikian pula adanya dengan orang yang suka berdoa bagi mereka yang merintangi pekerjaannya, dan dengan segala senang hati mau memberi maaf kepada mereka,yang tidak ragu-ragu pula minta maaf kepada orang lain dan yang lebih cenderung kepada rasa belas kasihan daripada rasa marah.Demikian juga halnya dengan orang yang seringkali bersikap keras terhadap diri sendiri dan berusaha agar hawa nafsunya tunduk kepada jiwanya.Lebih baik kita sekarang membersihkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, daripada harus menderita hukuman di kemudian hari.Sungguh, kita menipu diri sendiri, bila cinta kita terhadap badan kita tidak teratur.
3. Apakah yang akan dimakan api neraka, kalau bukan dosa-dosa kita ?Semakin banyak kita menuruti kehendak badan kita, semakin besar hukuman yang nantinya harus kita jalani dan semakin banyak bahan bakar yang kita timbun. Kita akan dihukum berat, sepadan dengan jenis dosa yang pernah kita lakukan.Orang yang lemah akan ditusuk dengan tusukan-tusukan yang mendidih panas dan orang yang menyembah akan disiksa dengan rasa lapar dan dahaga yang sangat besar.Orang yang selalu mencari kenikmatan daging akan disiram dengan lemak yang mendidih dan belerang yang berbau busuk; dan mereka yang suka marah-marah akan meraung-raung seperti anjing gila yang kesakitan.
4. Tak ada kejahatan satupun yang tidak akan disiksa.Orang yang sombong akan menderita penghinaan, dan yang kikir akan merasakan kekurangan hebat.Di sana satu jam siksaan akan terasa lebih berat daripada menjalankan hidup bertapa paling berat selama seratus tahun di dunia ini.Di sana tak ada istirahat, tak ada penghiburan bagi yang terhukum. Di dunia ini dalam pekerjaan yang berat kadang-kadang masih ada waktu untuk menarik nafas dan masih ada teman-teman yang memberi penghiburan.Maka hendaklah kita sekarang prihatin dan menyesal atas dosa-dosa kita; agar supaya pada hari kiamat kita beserta orang-orang yang telah bahagia tak akan merasa takut.Sebab pada saatu itu orang-orang yang baik akan berdiri dengan penuh kepercayaan berhadapan dengan mereka yang dahulu pernah menindas mereka (Keb. 5.1.).Pada saat itu orang yang sekarang dengan rendah hati tunduk kepada pertimbangan-pertimbangan orang lain, akan berdiri untuk mengadili.Orang-orang yang miskin dan rendah hati akan mempunyai harapan yang besar, sedangkan orang-orang yang sombong akan takut dalam segala hal.
5. Nantinya akan ternyata, bahwa mereka di dunia ini sungguh bijaksana, yang telah belajar diejek dan dihina karena Kristus.Di sana akan bergembiralah orang yang di dunia ini telah mengalami cobaan-cobaan dengan sabar dan segala kejahatan akan dihentikan. (Masm. 107.42).Pada waktu itu tiap orang saleh akan bergembira, sedangkan orang yang tak perduli akan Tuhan akan merasa sedih.Badan yang sekarang menderita oleh matiraga, nantinya akan merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada yang disayang-sayang dengan kemewahan.Pakaian sederhana orang miskin akan bersinar, sedangkan pakaian halus orang kaya akan menjadi suram.Rumah gubug akan lebih dipuji-puji daripada istana emas yang berkilau-kilauan.Kesabaran yang tekun akan lebih berguna daripada segala kekuasaan dunia.Ketaatan yang sederhana akan dijunjung lebih tinggi daripada segala kecerdikan duniawi.
6. Hati bersih suci akan memberi kegembiraan yang lebih besar daripada segala macam ilmu dan hikmat. Mereka yang dalam masa hidupnya meremehkan kekayaan akan lebih dihargai daripada orang yang serakah mengumpulkan harta duniawi.Maka kita akan lebih merasakan hiburan karena berdoa serta puasa dan matiraga, daripada karena makanan yang terpilih dan paling lezat.Maka kita akan lebih bergembira karena waktu diam telah kita jalankan dengan sebaik-baiknya, daripada karena kita telah banyak bicara.Maka pekerjaan baik dan dihargai lebih tinggi daripada kata-kata banyak yang bagus.Maka hidup keras dan suka menderita serta laku tobat yang berat akan lebih dihargai daripada segala macam kenikmatan duniawi.Baiklah kita sekarang belajar sedikit menderita, agar di kemudian hari kita dapat terlepas daripada kesengsaraan yang lebih berat.Hendaklah sekarang kita coba, yang nantinya mungkin dapat minimpa kita.Jika sekarang kita sudah sukar menahan sesuatu, bagaimanakah kiranya kelak kita dapat menahan hukuman abadi ?Bila kesusahan yang sangat kecil saja sekarang sudah membuat kita kurang sabar, bagaimana nanti keadaan kita jika api neraka menimpa kita ?Ingatlah, bahwa tidak mungkin kita dapat menikmati dua macam surga: kenikmatan hidup di dunia ini dan kelak duduk di sisi Kristus.
7. Apabila hingga saat ini kita selalu hidup disanjung-sanjung dan penuh kenikmatan, apakah gunanya semua itu, andaikata pada saat ini juga kita harus meninggal dunia ?Sungguh, semuanya adalah sia-sia, kecuali cinta kepada Tuhan dan hanya mengabdi kepadaNya.Sebab barangsiapa cinta akan Allah dengan sepenuh hati, ia tidak akan takut mati, hukuman, pengadilan, maupun neraka; karena cinta yang sempurna merupakan jalan yang aman menuju Tuhan.Sebaiknya orang yang masih melekat pada dosa, tentu takut mati dan pengadilan Tuhan.Tetapi baik jugalah kiranya, bahwa setidak-tidaknya rasa takut akan siksaan api neraka mampu menahan kita dari perbuatan jahat, apabila cinta kita pada Tuhan belum cukup untuk menahan kita dari perbuatan dosa.Tetapi barangsiapa menyingkirkan segala rasa takut kepada Tuhan, maka ia tidak akan lama dapat tinggal baik, melainkan dalam waktu singkat ia kan jatuh terjerat dalam perangkap setan

I.25. HAL RAJIN MEMPERBAIKI HIDUP KITA SENDIRI

1. Haraplah waspada lagi rajin dalam berbakti kepada Tuhan dan ingatlah seringkali: Apakah tujuanmu di sini dan mengapakah engkau telah meninggalkan dunia ? Bukankah untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan dan agar menjadi orang yang mementingkan soal-soal kerohanian ?Oleh sebab itu marilah kita sungguh-sungguh rajin berusaha mencapai kemajuan, karena tak berapa lama lagi kita akan menerima ganjaran bagi segala jerih payah kita. Maka selanjutnya tak akan ada rasa takut ataupun susah lagi bagi kita.Sekarang kita harus bekerja sebentar saja, sesudah itu akan memperoleh istirahat lama, bahkan kenikmatan kekal.Apabila kita rajin bekerja dan selalu setia, niscaya Tuhan akan membalasnya dengan setia pula dan murah hati.Kita memang harus mempunyai harapan besar, bahwa kita akan memperoleh kemenangan. Tetapi kemenangan itu janganlah kita pastikan, agar supaya kita tidak menjadi kurang rajin ataupun sombong.
2. Pada suatu peristiwa ada orang yang selalu merasa terombang-ambing antara khawatir dan pengharapan. Sewaktu orang tersebut merasa sangat gelisah dalam hatinya, maka berlututlah ia di dalam gereja di muka altar dan berdoa dengan khidmad, pikirnya: “O, seandainya saya tahu, bahwa saya akan tetap setia bertahan sampai akhir!” Segera orang itu mendengar jawaban Tuhan di dalam hatinya: “Seandainya engkau tahu akan hal itu, apakah yang akan engkau perbuat ? Jalankanlah sekarang apa yang akan engkau perbuat itu, dan engkau tentu akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman di dalam hatimu”. Segera orang tersebut merasa terhibur dan mendapat kekuatan. Dia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan dan lenyaplah rasa bimbang dan khawatirnya.Dan seterusnya orang tersebut tidak ingin mencari-cari atau meneliti lagi, apakah yang akan terjadi dengan dirinya di kemudian hari, tetapi yang lebih diutamakan ialah: memahami yang menjadi kehendak Tuhan yang sempurna yang berkenan kepadaNya (Rom 12.2), agar dengan semangat itu dimulainya dan disudahinya semua pekerjaan yang baik.
3. “Percayalah kepada Tuhan dan berbuatlah kebaikan” (kata Nabi), “dan diamilah muka bumi maka engkau akan mendapat makanan dari kekayaannya”. (Masm. 37.3).Ada satu hal yang merupakan penghalang bagi orang banyak untuk maju dan mengusahakan perbaikan hidupnya, yaitu takut menghadapi kesulitan, atau kurang berusaha menentang lawan.Padahal justru mereka yang dengan gagah berani berusaha mengalahkan apa yang dirasakannya sangat berat, atau yang sungguh tidak mereka sukai, itulah yang pertama-tama mencapai kemajuan dalam perkembangan hidup rohani.Kita akan makin maju dan makin banyak memperoleh rahmat, apabila kita makin banyak berolah matiraga.
4. Tetapi apa yang harus dikalahkan dan sifat buruk yang harus dimatikan itu memang tidak sama bagi setiap orang. Namun demikian, orang yang rajin dan bersemangat, meskipun ia itu mempunyai lebih banyak hawa nafsu, tentu akan lebih maju di jalan keutamaan, daripada orang yang berwatak baik, tetapi kurang rajin dan kurang bersemangat untuk mengejar kesempurnaan.Teristimewa ada dua hal yang dapat membantu kita dalam mencapai kemajuan besar, yaitu: dengan sekuat tenaga berpaling dari yang tidak baik, karena kita memang mudah tertarik olehnya; dan keduanya dengan terus menerus mengejar yang baik, yang memang benar-benar kita butuhkan.Berusahalah untuk menghindari dan mengatasi segala sesuatu, yang kita tidak suka melihatnya pada orang lain.
5. Pergunakanlah segala kesempatan untuk mencapai kemajuan dalam perkembangan rohani, hingga tiap contoh baik yang kita lihat atau dengar, merupakan cambuk untuk kita tiru. Dalam pada itu jika kita melihat sesuatu yang patut kita cela, janganlah sekali-kali hal itu kita tiru. Atau bila kita sendiri sudah pernah menjalankan kesalahan, selekasnyalah hal itu kita perbaiki.Seperti halnya kita memperhatikan perbuatan orang lain, demikian pula orang lainpun memperhatikan semua tindakan kita.Alangkah senang dan segarnya melihat para biarawan yang rajin, penuh semangat, lagi pula berkelakuan baik dan tertib menjalankan semua peraturan.Sebaliknya, alangkah sedih dan beratnya hati kita jika melihat orang yang hidupnya kurang baik, yang mengabaikan apa yang mestinya harus dijalankan sesuai dengan panggilan.Sungguh besarlah kerugian yang diderita, apabila orang tidak memperdulikan tujuan panggilannya, sebaliknya justru menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak masuk tugas kewajibannya.
6. Hendaklah kita ingat akan janji kita waktu dahulu dan bayangkanlah senantiasa di muka kita Tuhan Yesus yang tersalib itu! Bila kita mamandang hidup Yesus Kristus, sesungguhnya kita harus merasa malu, bahwa kita belum berusaha untuk menjadi lebih serupa dengan Dia, meskipun kita sudah lama mengikuti jalan Tuhan.Seorang biarawan yang dengan sungguh-sungguh serta kasih mesra, merenungkan dalam-dalam hidup yang amat suci dan sengsara Tuhan Yesus Kristus, akan memperoleh apa saja yang berguna dan penting baginya dengan berlebih-lebihan. Dan dia tidak merasa perlu mencari yang lebih penting di luar Yesus.Ah, seandainya Yesus yang disalibkan itu datang di dalam hati kita, alangkah cepatnya kita menjadi bijaksana !
7. Seorang biarawan yang rajin akan dengan suka hati menerima segala hal yang diperintahkan kepadanya.Dalam pada itu seorang biarawan yang malas dan lemah semangatnya, akan mengalami kesulitan bertumpuk-tumpuk dan menemui jalan buntu di mana-mana. Sebab hiburan batin ia tidak ada, sedang mau mencari hiburan lahir tidak diperbolehkan.Seorang biarawan yang tidak menghiraukan tata tertib biara boleh dikatakan berdiri di tepi jurang yang sangat berbahaya.Orang yang ingin mencari kesenangan dan keleluasaan saja, akhirnya akan merasa terjepit, karena tentu tetap ada yang kurang menyenangkan hatinya.
8. Bagaimana sekarang hidupnya pertapa-pertapa lainnya yang banyak sekali jumlahnya itu, dan yang sangat terikat oleh tertib-peraturan biara ?Mereka jarang keluar, hidup dalam perasingan, makan sangat sederhana, pakaian sangat kasar, bekerja keras, tidak banyak bicara, berjaga sampai malam dan pagi-pagi sudah bangun. Mereka banyak berdoa, banyak membaca dan selalu patuh kepada tertib peraturan biara.Perhatikanlah hidupnya para anggota ordo Karthuizer, Cistercienser dan para biarawan/biarawati ordo-ordo lainnya. Mereka itu setiap malam bangun untuk memuji dan meluhurkan Tuhan dengan nyanyian-nyanyian Masmur.Maka oleh sebab itu sungguh memalukan seandainya kita terlalu malas melakukan pekerjaan yang sungguh suci itu, sedangkan begitu banyak jumlahnya para biarawan yang pada saat itu mulai memuji-muji Tuhan.Alangkah bahagia kita, seandainya kita tidak ada pekerjaan lain, kecuali memuji Tuhan dan Allah kita dengan hati dan mulut !
9. O, seandainya kita tidak membutuhkan makan, minum, dan tidur, tetapi terus menerus dapat memuji Tuhan dan berusaha untuk kemajuan di bidang kerohanian saja! Bila demikian halnya, kita tentu merasa jauh lebih bahagia daripada sekarang. Karena sekarang ini kita harus juga memikirkan kebutuhan-kebutuhan badan kita, sekalipun karena terpaksa oleh keadaan.Ah, alangkah baiknya, seandainya kita tidak mempunyai kebutuhan-kebutuhan jasmani, malainkan hanya memiliki kenikmatan rohani, yang sayang sekali hanya jarang kita rasakan.
10. Apabila orang sudah mencapai tingkatan yang begitu tinggi, hingga ia tidak menginginkan hiburan dari makhluk manapun juga, barulah ia merasa dengan sempurna kenikmatan Tuhan; dan demikian pula ia baru akan puas dalam segala kejadian apapun juga.Maka ia tidak akan bergembira tentang perkara yang besar, dan juga tidak akan merasa sedih karena hal yang kecil-kecil. Tetapi ia akan menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Tuhan. Baginya Tuhan adalah segala-galanya, sedang bagi Allah tak ada barang yang musnah atau mahkluk yang mati. Sebaliknya semuanya hidup untuk Tuhan dan segala sesuatu mengabdikan diri kepada Tuhan atas perintahNya.
11. Hendaklah kita selalu ingat akan saat akhir nanti, dan bahwa waktu yang sudah lewat itu tidak akan kembali lagi.Kebajikan hanya dicapai dengan susah payah.Bila semangat kita mulai surut, maka kita tidak akan memperoleh kebaikan.Tetapi sebaliknya, jika kita memaksa diri kita supaya menjadi rajin dan bersemangat, maka kita akan lebih merasakan damai dan segala pekerjaan akan menjadi ringan karena rahmat Allah dan karena cinta kita akan kebajikan.Orang yang rajin dan bersemangat tentu sanggup mengerjakan apapun juga.Sungguh lebih berat menentang kejahatan dan hawa nafsu sendiri daripada menjalankan pekerjaan yang paling berat sekalipun.Barangsiapa tidak menyingkirkan kekurangan-kekurangan yang kecil, lambat laun akhirnya dia mesti akan jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan besar.Waktu malam kita selalu akan merasa gembira, jika hari itu telah kita akhiri dengan hasil baik dan berfaedah.Marilah kita waspada terhadap diri kita sendiri, kita gugah semangat kita, kita bangkitkan hasrat kita. Dan bagaimanapun keadaan orang lain, janganlah kita mengabaikan diri kita sendiri.Kita akan makin berkembang dalam bidang kehidupan rohani, selaras dengan makin kuatnya kita dapat mengendalikan hawa nafsu di dalam diri kita sendiri. Amin